Nisita.info, Samarinda – Lampu LED di langit-langit Aula Syahrial Setia pendar terang, memantulkan cahaya lembut pada lantai ruang rapat yang bersih mengkilap. Di dalam ruangan yang sejuk dan tenang itu, susunan meja bundar bertaplak putih tertata presisi, mengapit deretan kursi yang diduduki para penguji dan tamu undangan. Tidak ada hiruk-pikuk yang berlebihan, yang terasa justru atmosfer hangat nan serius dari sebuah panggung tempat gagasan-gagasan baru untuk Kalimantan Timur sedang diuji.
Di bagian depan, layar monitor besar menampilkan paparan materi presentasi yang tertata rapi. Hari itu, Rabu (7/10/2026), Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur kembali menggelar panggung tahunannya: Penjaringan Peserta Inovasi Kreativitas Pelayanan Perangkat Daerah, atau yang akrab disapa Pepes Ikan Peda 2026. Sebuah ajang yang kini telah menginjak tahun ketujuh perjalanannya.
Menatap Masa Depan Riset Kesehatan dari Rumah Sakit Rujukan
Atmosfer ruang rapat mendadak makin berbobot saat giliran tim dari RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda maju memaparkan gagasan mereka. Di hadapan dewan juri, RSUD AWS memperkenalkan Clinical Research Unit (CRU).
Bukan sekadar unit administrasi biasa, CRU dihadirkan sebagai wadah terintegrasi untuk memperkuat riset klinis di rumah sakit rujukan utama Kaltim tersebut. Melalui peningkatkan standar penelitian medis, uji klinis obat, hingga tata kelola riset kesehatan berbasis bukti (evidence-based medicine), inovasi ini menjadi angin segar bagi dunia kesehatan daerah. Harapannya jelas: agar pelayanan medis untuk masyarakat tidak hanya responsif, tetapi juga berbasis pada temuan-temuan ilmiah terbaru yang sahih dan tepercaya.
Inovasi dari RSUD AWS ini hanyalah satu dari 28 inovasi dari 25 Perangkat Daerah Provinsi Kaltim yang berkompetisi pada hari pertama. Keesokan harinya, giliran 44 inovasi dari 10 Kabupaten/Kota se-Kaltim yang akan menguji taji mereka di ruangan yang sama.
Mengikis Mental “Proyek Insidentil”
Di balik presentasi yang memukau dan visualisasi slide yang memanjakan mata, ada napas panjang yang ingin ditiupkan oleh BRIDA Kaltim. Kepala BRIDA Kaltim, Dr.M. Ir. H. Fitriansyah, S.T., M.M, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh OPD dan tujuh dewan juri akademisi serta praktisi yang tak lelah mengawal proses evaluasi ini.

Kepala Bidang Inovasi dan Teknologi BRIDA Kaltim, Hj. Lenny Syafarina, SE., M.A.P. menegaskan bahwa ajang Pepes Ikan Peda bukanlah sekadar rutinitas tahunan, apalagi cuma menggugurkan kewajiban untuk memenuhi tugas Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) atau Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) para pejabat.
“Kita berharap dengan Pepes Ikan Peda ini akan terwujud budaya inovasi, bukan proyek insidentil. Artinya, inovasi yang dibuat bukan sekadar menyelesaikan tugas Diklat bagi para pejabatnya, tetapi harus tetap terus berjalan dan berkembang untuk pelayanan publik yang lebih cepat dan lebih baik,” tutur Lenny dengan nada mantap.
Bagi Lenny, tantangan terbesar tata kelola pemerintahan hari ini adalah konsistensi. Sebuah inovasi sering kali redup tatkala sang konseptor berpindah tugas atau ketika evaluasi diklat usai. Lewat Pepes Ikan Peda, BRIDA ingin merobohkan sekat-sekat tersebut.
“Diharapkan setiap OPD akan melahirkan ASN inovator—ASN yang berinovasi dari hasil pemikiran kritis dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di tengah masyarakat. Setiap inovasi ini nantinya wajib dilaporkan ke BSKDN Kemendagri untuk pengukuran Indeks Inovasi Daerah. Ini dilakukan dalam rangka pembinaan agar tercipta budaya kerja yang lebih baik dan daya saing Kaltim terus meningkat,” tambahnya.
Ketika lampu-lampu di Ruang Syahrial Setia perlahan dipadamkan usai sesi pemaparan sore itu, gagasan yang ditinggalkan para peserta tidak ikut redup. Di ruangan sejuk berbekal meja bundar bertaplak putih itu, sebuah komitmen bersama sedang dirawat: memastikan bahwa setiap pelayanan publik di Kalimantan Timur terus tumbuh, berbenah, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas. (Tr/*)















