Nusantara Raya

Gagas Gerakan 7 KAIH, Mendikdasmen Dianugerahi Tokoh Pencetak Karakter Unggul Pelajar

Nisita.info – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, resmi dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Pencetak Karakter Unggul Pelajar Indonesia.

Penghargaan ini diberikan dalam ajang Anugerah INDOPOSCO yang digelar bertepatan dengan HUT ke-5 media tersebut di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Predikat ini diberikan atas konsistensi Abdul Mu’ti dalam menginisiasi dan memimpin kebijakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH), yang kini telah bertransformasi menjadi gerakan strategis nasional di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Kebijakan 7 KAIH bukan sekadar instruksi formal, melainkan pendekatan pembiasaan nilai positif sehari-hari. Gerakan ini menekankan bahwa pembentukan karakter harus dimulai dari hal-hal mendasar yang dilakukan secara konsisten oleh anak-anak.

Tujuh kebiasaan tersebut meliputi:

  1. Bangun pagi

  2. Beribadah

  3. Berolahraga

  4. Makan sehat dan bergizi

  5. Gemar belajar

  6. Bermasyarakat

  7. Tidur cepat

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Khusus Menteri Bidang Media, Ma’ruf El Rumi, Mendikdasmen menekankan pentingnya sinergi. Jika Ki Hajar Dewantara mengenal konsep “Tri Pusat Pendidikan” (Sekolah, Keluarga, Masyarakat), maka di era digital ini, media menjadi elemen keempat yang tak kalah penting.

“Media merupakan elemen penting yang turut membentuk cara berpikir, cara belajar, serta perilaku anak-anak dan pelajar kita. Media diharapkan dapat memberikan arah yang benar dalam mengakses informasi,” ujar Ma’ruf menyampaikan pesan Mendikdasmen.

Penghargaan dengan tema “Kepak Membawa Dampak” ini menegaskan peran kementerian dalam menempatkan pendidikan karakter sebagai jangkar utama pembangunan sumber daya manusia (SDM). Melalui gerakan 7 KAIH, Kemendikdasmen berupaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga tangguh secara fisik dan memiliki etika bermasyarakat yang kuat.

Dukungan publik terhadap program ini terpantau sangat masif, baik di lingkungan sekolah maupun melalui kampanye di berbagai kanal digital. Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat merindukan sistem pendidikan yang mampu menyeimbangkan antara kompetensi akademik dan kekuatan moral.(BK-Kemendikdasmen/*)

Related Posts

1 of 9