Informasi

AI Itu Alat Bantu Riset, Bukan Pengganti Proses Berpikir Mahasiswa

Nisita.info – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, memberikan peringatan keras terkait tren ketergantungan mahasiswa terhadap teknologi kecerdasan artifisial (AI).

Dalam audiensi bersama Tim Riset Digital Culture & New Media Studies Lab Telkom University, Selasa (3/2/2026), ia menekankan bahwa AI harus diposisikan sebagai mitra kerja, bukan pengganti kemampuan analitik manusia.

Nezar menyoroti fenomena “budaya instan” di mana mahasiswa seringkali langsung menggunakan hasil AI tanpa proses kurasi atau analisis mendalam, sehingga kehilangan sikap kritis.

“Kita harus menumbuhkan kesadaran agar mahasiswa tidak bergantung pada AI. AI boleh digunakan sebagai alat bantu riset, namun analisis akhir dan proses berpikir harus tetap dilakukan oleh manusia. Jangan sampai mereka cemas saat tidak ada akses AI karena merasa tidak bisa berpikir,” tegas Nezar di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat.

Wamen Nezar mengingatkan bahwa hasil yang dikeluarkan oleh AI tidak bisa langsung dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak. Penggunaan yang tepat adalah dengan menjadikan hasil AI sebagai bahan mentah yang kemudian diolah kembali.

“Yang benar adalah hasil dari AI ini tidak langsung di-copy paste, tapi dia memparafrase lagi dan menjadikannya sebagai alat bantu riset,” tuturnya.

Ia bahkan menceritakan bahwa di beberapa universitas luar negeri, sistem pengujian mulai kembali ke metode klasik, yakni esai tulis tangan, guna memastikan kemampuan analitik mahasiswa tetap terjaga dan tidak tergerus oleh ketergantungan teknologi.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Nezar mengapresiasi inisiatif Telkom University yang akan melakukan riset mengenai literasi AI di kalangan pelajar dan mahasiswa. Pemerintah menilai riset ini sangat penting untuk mengukur sejauh mana kesiapan generasi muda berinteraksi dengan teknologi baru ini.

“Perlu diukur apakah mereka punya sikap kritis terhadap AI itu. Melalui riset ini, pemerintah dapat menyesuaikan kebijakan berdasarkan fakta di lapangan mengenai tingkat ketergantungan AI di kalangan pelajar,” imbuhnya.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga pola pikir kritis generasi muda Indonesia agar tetap kompetitif secara intelektual, meski berada di tengah gempuran otomatisasi teknologi.(HM-KKD/*)

Related Posts

1 of 20