Nisita.info — Bagi sebagian orang, menembus universitas kelas dunia mungkin terasa seperti mimpi yang jauh. Namun, bagi para siswa di SMAN 10 Samarinda, mimpi itu kini berada dalam genggaman.
Dalam tayangan interaktif “Ngapeh” di TVRI Kaltim, Senin (20/4), sebuah kisah inspiratif tentang daya juang dan sistem pembinaan yang apik tersaji, membuktikan bahwa pelajar dari daerah mampu bersaing di panggung global.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Evangelica Josephine Nainggolan, atau yang akrab disapa Lica. Siswi SMAN 10 Samarinda ini berhasil mencatatkan prestasi luar biasa dengan diterima di berbagai universitas ternama di tiga benua: Amerika Serikat, Kanada, hingga Australia.
Daftar kampus yang memberikan lampu hijau kepada Lica bukanlah sembarang nama. Mulai dari University of British Columbia (UBC) di Kanada, Monash University di Australia, hingga Iowa State University dan University of Utah di Amerika Serikat. Tak ketinggalan, di dalam negeri, ia pun lolos di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Meski tawaran membanjiri, Lica mengaku tetap membumi dan fokus pada skema Beasiswa Garuda yang tengah ia perjuangkan. Baginya, lingkungan sekolah yang suportif menjadi bahan bakar utama motivasinya.
“Saya senang berada di lingkungan teman-teman yang punya semangat juang yang sama. Itu membuat saya terpacu untuk terus berkembang. Di sini, kami terbiasa belajar disiplin dan membangun mental sejak awal,” ungkap Lica dengan antusias.
Keberhasilan Lica bukanlah kebetulan. Wakil Kepala SMAN 10 Samarinda, Abd Rais Thamrin, membeberkan bahwa sekolahnya merupakan satu-satunya di Kalimantan Timur yang masuk dalam program nasional Garuda Transformasi.
Sistem ini bukan sekadar bimbingan belajar biasa. Sejak kelas 10, para siswa digembleng secara komprehensif, mulai dari akademik, fisik, hingga ketahanan mental. Hasilnya mencengangkan: dari 36 siswa yang didaftarkan, 32 di antaranya telah mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari perguruan tinggi dunia.
Proses pembinaan di sekolah ini menuntut dedikasi tinggi. Para siswa terbiasa melakukan drill soal, pendampingan lomba, hingga menulis karya tulis ilmiah baik kualitatif maupun kuantitatif. Bahkan, tidak jarang mereka harus belajar hingga larut malam bersama tim dari kementerian.
“Kami menerima siswa dari berbagai latar belakang, lalu menyamakan kemampuan mereka melalui pembinaan intensif,” jelas Abd Rais. Ia menekankan bahwa kesiapan mental adalah kunci. Tanpa daya juang yang tinggi, mustahil bagi pelajar daerah untuk menembus seleksi ketat kampus internasional.
Melalui program ini, SMAN 10 Samarinda berharap tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang kuat melalui kegiatan organisasi.
Capaian Lica dan rekan-rekannya menjadi pengingat bagi seluruh pelajar di Kalimantan Timur bahwa batasan geografis bukanlah penghalang. Dengan pembinaan yang tepat dan lingkungan yang memicu kompetisi positif, jalan menuju universitas kelas dunia terbuka lebar bagi siapa saja yang berani bermimpi dan bekerja keras. (sef/pt/*)















