Nisita.info – Aroma harum penganan khas berbuka dan riuh rendah tawa warga menjadi penanda dibukanya Kampung Ramadan Temindung, Sabtu (21/2/2026) malam. Namun, jangan salah sangka; ini bukan sekadar pasar kaget musiman. Kampung Ramadan Temindung hadir sebagai simbol kebangkitan ekonomi kreatif yang lahir dari rahim komunitas lokal.
Sejak pintu gerbang dibuka, antusiasme warga Kota Tepian tampak meluap. Kawasan Temindung seketika bertransformasi menjadi ruang rindu sekaligus pusat ngabuburit baru yang menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat Samarinda.
Ada hal istimewa yang membedakan Kampung Ramadan Temindung dengan pasar serupa lainnya. Jika biasanya pasar Ramadan dikelola penuh oleh instansi pemerintah, Temindung justru bergerak dari akar rumput.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, memberikan apresiasi tinggi atas kemandirian ini. Ia mencatat bahwa mayoritas perencanaan hingga pendanaan dilakukan secara mandiri oleh komunitas setempat.
baca juga: Waktu Maghrib Berau Hari Ini, Minggu 22 Februari 2026 pada Pukul 18.28 WITA
“Ini hasil kolaborasi. Mayoritas pembiayaan dari komunitas. Pemerintah hadir untuk mendukung sistem dan memfasilitasi,” ujar Ririn saat meninjau lokasi. Baginya, fenomena ini adalah sinyal positif bagi pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism) yang nyata di Samarinda.

Panggung UMKM dan Strategi Branding
Bukan sekadar tempat bertukar uang dan barang, Kampung Ramadan ini menjadi laboratorium bagi para pelaku UMKM lokal. Ririn mengamati bahwa banyak pedagang kini mulai sadar akan pentingnya identitas usaha.
“Sebagian sudah punya brand. Ini strategi ekonomi kreatif ke depan, bagaimana UMKM terus berkembang dan punya pasar yang lebih luas,” tambahnya dengan optimis.
Tak hanya kuliner, kreativitas warga juga dituangkan dalam berbagai agenda seni. Mulai dari lomba beduk hingga pertunjukan seni lokal dijadwalkan akan mengisi hari-hari warga selama sebulan penuh. Inisiatif ini membuktikan bahwa ekonomi kreatif selalu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Harapan Keberlanjutan
Antusiasme yang tinggi dan partisipasi lomba yang meluap menjadi bukti bahwa ruang publik yang hidup sangat dirindukan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berharap Kampung Ramadan Temindung tidak berhenti sebagai agenda musiman, melainkan menjadi kegiatan rutin yang berdampak panjang secara ekonomi dan sosial.
“Kalau melihat komitmen dan antusias komunitas, kegiatan seperti ini sangat mungkin berkelanjutan. Pemerintah provinsi akan terus membersamai,” pungkas Ririn.
Kampung Ramadan Temindung kini berdiri tegak sebagai bukti bahwa ketika komunitas bergerak, ekonomi kreatif tidak hanya tumbuh, tapi juga memiliki jiwa. (*/pt)















