Sobat, momentum Agustus dan September kerap membawa nuansa yang khas bagi bangsa Indonesia. Di satu sisi, kita baru saja merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia dengan penuh suka cita. Di sisi lain, kita memasuki bulan suci Maulid Nabi Muhammad saw., ruang spiritual untuk merenungkan kembali perjalanan hidup dan ajaran Sang Rasul. Namun, di tengah perayaan kemerdekaan dan rasa syukur religius ini, ancaman tahunan kembali mengintai di depan mata: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bahaya kerusakan lingkungan.
Kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan bukan sekadar kebebasan dari penjajahan fisik, melainkan juga amanah untuk menjaga kedaulatan tanah air. Menjaga ruang hidup dari bencana asap dan asap karhutla adalah bagian dari ikhtiar mengisi kemerdekaan secara konkret. Ketika lingkungan rusak dan udara tercemar, hak-hak dasar warga negara untuk hidup sehat turut terenggut.
Di sinilah relevansi peringatan Maulid Nabi menemukan bentuknya yang paling nyata. Sebagaimana diuraikan dalam artikel khutbah di NU Online karya Sunnatullah (26/08/2026) bertajuk “Khutbah Jumat: Bulan Maulid, Kembali Membaca Sirah Nabawiyah untuk Diteladani”, cara terbaik merayakan kelahiran Rasulullah saw. adalah dengan membaca dan meneladani sirah Nabawiyah dalam kehidupan sehari-hari.
Meneladani Rasulullah tidak terbatas pada aspek ibadah ritual belaka, tetapi mencakup kesosialan, kepemimpinan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan (rahmatan lil ‘alamin). Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21, Rasulullah adalah uswatun hasanah—suri teladan sempurna. Dalam konteks menjaga alam, Nabi Muhammad saw. mengajarkan prinsip-prinsip kasih sayang yang melarang perusakan lingkungan dan mendorong pembukaan lahan yang bertanggung jawab tanpa merugikan orang lain.
Sikap kasih sayang yang diajarkan Nabi melalui sabdanya, “Sungguh, siapa saja yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi” (HR. Ahmad), juga berlaku dalam hubungan manusia dengan alam. Tindakan membakar hutan secara sembarangan yang memicu karhutla merupakan cermin hilangnya rasa kepedulian terhadap sesama makhluk hidup yang terdampak oleh polusi dan bencana ekologis.
Memadukan semangat HUT RI dan Maulid Nabi memberi kita pijakan moral dan kebangsaan yang kuat. Kemerdekaan sejati adalah ketika kita mampu mengelola bumi pertiwi dengan teladan akhlak kenabian: bertindak bijak, tidak merusak, dan bahu-membahu mencegah karhutla demi keselamatan generasi mendatang. (Berbagai sumber)















