Destinasi Wisata

Tebing Lonceng, Wisata Bentang Alam di Puncak Bukit

Senyum pengunjung lebar merekah saat berfoto OOTD (Out Fit of The Day) di atas perahu. Tidak ada kekhawatiran camera shake maupun oleng. Sebab, perahu mengarung di atas panorama Kota Samarinda. Bukan di atas air.

‎Halo, Sobat Nisita! Sudah ada rencana hunting foto ke wisata pemandangan, belum? Ada satu destinasi panorama di Samarinda Seberang yang layak masuk daftar, lho. Namanya, Tebing Lonceng.

Objek wisata yang berada di kawasan Gunung RCTI, Jalan Dwikora, Kelurahan Mangkupalas ini memiliki pemandangan panoramik hampir 360 derajat. Kita dapat mengambil gambar landskap Jembatan Mahakam, Masjid Islamic Center, dan Jembatan Mahkota II hanya dari satu titik.

“Kalau bicara Tebing Lonceng, ini salah satu view terbaik di wilayah Samarinda Seberang. Dari sisi selatan kita bisa melihat langsung muara sungai, dari utara terlihat Samarinda Seberang dan pusat Kota Samarinda. Dari timur terlihat kawasan Sungai Kapih dan Jembatan Mahkota II, sedangkan dari barat tampak hamparan hutan dan permukiman warga,” ujar Rusdiansyah Rais.

Sebagai Pemandu Wisata dan penduduk asli Samarinda Seberang, Ia menceritakan alasan penggunaan nama “lonceng” kepada awak media. Disampaikan bahwa pada medio 1977 hingga 1978, kawasan ini awalnya lebih dikenal dengan nama Gunung Butun.

Cerita di Balik Nama Tebing Lonceng

Memasuki awal dekade 1980-an—sekitar tahun 1981 atau 1983—namanya bergeser menjadi Gunung Lampu seiring dengan berdirinya pemancar TVRI dan masuknya aliran listrik pertama yang menerangi kawasan tersebut. Memasuki tahun 1991, nama itu kembali bersalin rupa menjadi Gunung RCTI.

Namun, jauh di abad ke-17, puncak ini adalah pos intai militer yang amat krusial. Memiliki sudut pandang terbaik yang menyapu kawasan mulai dari Gunung Lipan, Gunung Panjang, Kahala, Kalan, hingga barisan Bukit Mangkuliat di Palaran, tempat ini sengaja dipilih oleh Kerajaan Kutai saat itu sebagai benteng pertahanan teritorial.

Sebagai imbalan atas suaka dan lahan yang diberikan, para prajurit pelarian perang dari Sulawesi ini mengemban mandat penting: menjaga aliran Sungai Mahakam dari ancaman VOC serta serbuan bajak laut yang kala itu marak datang dari Filipina Selatan.

Di titik paling strategis inilah sebuah pos pengamat didirikan. Uniknya, tanda bahaya tidak ditiup melalui terompet, melainkan melalui sebuah lonceng besar.

Lonceng tersebut bukanlah barang biasa, melainkan hasil rampasan dari kapal Portugis yang awalnya hendak dijadikan lonceng gereja di Sulawesi, sebelum akhirnya dibawa bermigrasi dan dipasang kokoh di puncak bukit ini sebagai saksi bisu pertahanan Mahakam.

Dari Fasilitas, Mitigasi, Hingga Potensi Paket Wisata

Tebing Lonceng dulunya hanya jadi lokasi aktivitas santai dan olahraga warga sekitar. Kini, berbagai fasilitas penunjang sudah mulai tersedia.

Saat kami berkunjung ke kawasan Tebing Lonceng, Sabtu (13/6/2026) malam, fasilitas parkir sudah tersedia. Dari sana kami berjalan sekitar 500 meter mendaki bukit sebelum tiba di puncak.

Setiap pengunjung akan dikenakan biaya masuk sebesar 10 ribu Rupiah. Di dalam sudah ada Mushola, kafetaria, warung makan, toilet, dan tentu saja ada gardu pandang.

Sebuah replikasi perahu dengan kemudi menjadi pilihan utama pengunjung saat mengambil gambar. Posisinya yang menghadap Masjid Islamic Center dan Kantor Gubernur dapat menjadi pilihan untuk microblogging pada media sosial.

‎Ingin mengoleksi gambar time line pemandangan dari petang hingga pagi hari? Sobat Nisita tidak perlu membawa tenda. Ada villa yang sudah berdiri dan dapat digunakan untuk beristirahat atau berteduh dari hujan. Hayo, siapa yang sudah mulai Googling tentang Tebing Lonceng?

‎Namun, di balik dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar, ternyata masih ada tantangan untuk menjadikan Tebing Lonceng sebagai destinasi andalan Kota Tepian. Selain keterbatasan fasilitas, juga ada persoalan mitigasi bencana, terutama ancaman longsor.

‎“Kami pernah melakukan survei bersama BPBD dan DLH. Kawasan ini berada di wilayah yang cukup rentan longsor karena terdapat aliran air di bawah tanah. Ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan pengunjung,” ujar Rusdi.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Samarinda Seberang itu sangat berharap adanya dukungan dan sentuhan Pemerintah Kota Samarinda. Ia menilai, integrasi Tebing Lonceng dalam satu paket wisata di Samarinda Seberang sangat mungkin dilakukan. Paket ini akan menghubungkan Kampung Ketupat, Rumah Tua, Masjid Tua, dan Kampung Tenun dengan Tebing Lonceng.(TR)

Related Posts

1 of 5