DPRD Kota Samarinda

Integrasi Revitalisasi Fisik dan Tata Kelola Profesional Pasar Pagi Samarinda

Masifnya langkah pembangunan fisik serta revitalisasi pasar tradisional yang tengah digencarkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mendapatkan pengawalan dan dukungan penuh dari pihak parlemen.

Nisita.info, Samarinda – Jajaran legislatif terus mengingatkan bahwa cetak biru kesuksesan pasca-pembangunan tidak sekadar bersandar pada kemegahan arsitektur, melainkan pada kemampuan infrastruktur tersebut dalam menstimulus pertumbuhan ekonomi riil masyarakat.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, H. Iswandi dalam sesi wawancara di ruang kerjanya, Kamis (11/6/2026). Ia secara khusus menyoroti proyek strategis revitalisasi Pasar Pagi yang manajemen pengelolaannya harus dipersiapkan secara matang sejak dini guna memberikan nilai tambah (value added) yang maksimal bagi ekosistem pedagang lokal.

“Nah, saran kami dari legislatif, kreativitas itu jangan berhenti di pembangunan gedung saja. Pemkot harus jauh lebih kreatif dalam merumuskan strategi manajemen untuk menghidupkan roda ekonomi di dalam pasar yang sudah dibangun megah tersebut agar selalu ramai dikunjungi pembeli,” urai Iswandi.

Perspektif Akademis: Pasar Tradisional sebagai Pusat Atraksi

Kekhawatiran dan saran visioner yang disampaikan oleh Ketua Komisi II DPRD Samarinda ini sejalan dengan temuan ilmiah mutakhir. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Pariwisata (2025), revitalisasi pasar tradisional di kota-kota besar sering kali menghadapi tantangan pasca-konstruksi akibat tidak sinkronnya sistem tata kelola dengan kebutuhan adaptasi pasar modern.

Riset tersebut menegaskan bahwa daya tarik utama pasar tradisional di era modern bukan terletak pada bentuk fisiknya semata, melainkan pada keaslian atmosfer lokal (authentic local atmosphere), interaksi sosial, serta keragaman produk budaya yang disajikan. Studi tersebut menyimpulkan bahwa kegagalan mengoordinasikan manajemen yang profesional dan inklusif setelah pembenahan infrastruktur justru dapat menurunkan kenyamanan pengunjung dan mematikan potensi ekonomi pasar.

Oleh karena itu, kajian ilmiah tersebut merekomendasikan perlunya pendekatan yang seimbang antara modernisasi fasilitas fisik dengan pelestarian budaya lokal, di mana para pedagang dibekali pelatihan pelayanan (hospitality) agar pasar tradisional mampu naik kelas menjadi destinasi yang berkelanjutan.

Menangkap Momentum Ekonomi Kreatif Lewat Anak Muda

Selaras dengan rekomendasi riset mengenai pentingnya diversifikasi produk budaya di area pasar, Iswandi juga melihat adanya momentum emas penataan ekonomi kreatif (ekraf) kota seiring terpilihnya klub sepak bola lokal Samarinda ke ajang turnamen bergengsi tingkat Asia. Guna menangkap stimulus ekonomi tersebut, ia menyarankan agar pemkot memberikan ruang aktualisasi seluas-luasnya bagi komunitas anak muda.

“Anak-anak muda di Samarinda ini memiliki kreativitas yang sangat tinggi dan luar biasa. Pemkot melalui dinas terkait harus merangkul dan menggandeng mereka untuk mengelola sektor ekonomi kreatif kita. Dengan kolaborasi bersama anak muda, kita optimis produk ekraf lokal Samarinda bisa dikenal luas hingga kancah internasional,” kunci Iswandi dengan optimis.

Dengan adanya keterpaduan antara pembangunan fisik yang masif, manajemen tata kelola yang profesional berbasis riset, serta pelibatan aktif komunitas kreatif muda, Pasar Pagi dan sektor ekraf Samarinda diyakini mampu tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang tangguh dan berdaya saing global. (Tr/Adv/DPRD Samarinda)

Sumber Data & Referensi:

  1. Liputan Komersial Parlemen DPRD Kota Samarinda, Juni 2026.

  2. Hasil Penelitian Jurnal Ilmiah Pariwisata Vol. 30 No. 1 (2025): “Keberadaan Pasar Tradisional Sebagai Destinasi Wisata” (Institut Pariwisata Trisakti).

Related Posts

1 of 6