Budaya

Festival Budaya Dayak Kenyah, Potret Gotong Royong Warisan Leluhur

Nisita.info, Samarinda – Seperti yang sudah disebutkan jauh-jauh hari, bentangan Serebu Dayak tampak anggun menghiasi sepanjang jalan menuju venue utama Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 di Desa Wisata Budaya Pampang.

Jika diamati dari dekat, memang hanya ada goresan warna merah di tengah rumbaian serutan kayu alami tersebut. Namun, muncul kesan magis yang tak terlukiskan saat hiasan sakral ini ditata rapi dan seragam, berjejer konstan membimbing pandangan mata dari satu titik ke titik yang lain.

Serebu Dayak yang sudah diwarnai dan dirangkai sedemikian rupa. Foto: Taufiq/Nisita

Hanya dengan kehadiran Serebu Dayak, tanpa perlu kepungan umbul-umbul kain modern, nuansa adat budaya Dayak Kenyah benar-benar sudah memberikan pesan kuat kepada siapapun yang datang: festival ini memiliki akar yang dalam dan sangat patut untuk terus dipertahankan.

Keindahan visual yang tertata rapi ini nyatanya tidak tumbuh dalam semalam. Ketua Panitia Festival, Madan Bid, mengungkapkan bahwa seluruh kemegahan ini merupakan hasil dari persiapan matang dan kerja keras yang melelahkan.

“Persiapan sudah kita laksanakan sejak awal April ya, jadi semua panitia telah bekerja mempersiapkan segala sesuatunya,” ujar Madan Bid saat ditemui sesaat sebelum festival dibuka, Kamis (25/6/2026).

Madan menegaskan bahwa proses di balik layar—mulai dari latihan tari para remaja, persiapan dekorasi, hingga pembersihan area—digerakkan oleh satu bahan bakar utama: semangat gotong royong.

Di tengah gempuran zaman modern di mana ikatan sosial mulai mengendur, festival ini sengaja dijadikan alat edukasi nyata bagi anak-anak muda Pampang untuk kembali menghidupkan tradisi bekerja bersama yang diwariskan oleh para leluhur mereka.

Puncak dari gotong royong antar-generasi itu mewujud indah hari ini. Saat melangkah tiba di lokasi utama, tepatnya di halaman depan Gereja Kemah Injil, sebuah gapura tinggi dari bambu melengkung yang dihiasi gantungan rumbaian Serebu Dayak berujung merah sudah berdiri megah menyambut kedatangan para tamu.

Perahu yang digunakan untuk mengarak. Foto: Taufiq/Nisita

Sentuhan dekorasi hasil serutan kayu halus yang dikerjakan bersama-sama ini juga melekat erat pada perahu kayu tradisional berukir khas Dayak yang disiapkan khusus untuk mengarak para tamu kehormatan menuju Lamin Adat.

Di sekitar area penyambutan, atmosfer budaya terasa kian pekat. Para pemuda setempat yang terlibat aktif sejak awal April tampak gagah mengenakan pakaian adat lengkap dengan topi manik-manik dan rompi bermotif totemik, berdiri tegap menyambut rombongan.

Wali Kota Samarinda, Wakil Wali Kota (Wawali), bersama jajaran unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Samarinda yang tiba di lokasi langsung mengikuti prosesi ritual penyambutan dengan khidmat.

Usai ritual adat penolak bala selesai dilaksanakan, para pemimpin daerah tersebut kemudian dipersilahkan naik ke atas perahu Alud Adang untuk diarak bersama oleh warga menuju jantung perayaan di Lamin Adat Pampang. Sebuah pembukaan yang membuktikan bahwa ketika gotong royong ditenun dengan matang, warisan leluhur akan selalu menemukan jalannya untuk tetap berdiri tegak.(TR)

Related Posts

1 of 6