Waktu tidak pernah mau menunggu. Di bawah bayang-bayang atap lamin yang megah di Desa Budaya Pampang, Samarinda, detik jam seolah berdetak lebih cepat seiring mendekatnya tanggal 25 hingga 28 Juni 2026.
Nisita.info, Samarinda – Bagi masyarakat Dayak Kenyah, empat hari itu bukan sekadar perayaan tahunan biasa, melainkan panggung pertaruhan identitas di era digital.
Ketika kepanitiaan resmi terbentuk beberapa bulan lalu, napas persiapan langsung dipacu kencang. Tidak ada waktu untuk bersantai.
“Sebulan hingga dua bulan yang lalu kami sudah mulai melakukan persiapan. Kami langsung bergerak, terutama pada bidang promosi,” ujar Yusak, Sekretaris Panitia Festival Budaya Dayak Kenyah 2026, dengan nada penuh semangat saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp, Rabu (17/6/2026).
Ada yang berbeda dari riuh persiapan tahun ini. Sadar bahwa esensi budaya harus menembus sekat generasi, panitia mengambil langkah berani: mengawinkan ritual leluhur dengan kekuatan algoritma media sosial.
Promosi tidak lagi mengandalkan pamflet kertas atau spanduk jalanan yang kaku. Akun Instagram dan TikTok resmi Desa Budaya Pampang mendadak riuh dengan konten-konten estetik. Senjata rahasia mereka? Anak muda setempat.
”Kami memanfaatkan media sosial destinasi wisata Desa Budaya Pampang dan berkolaborasi dengan anak-anak muda yang memiliki banyak follower,” jelas Yusak.
Menariknya, para penari tradisional Pampang kini juga berperan sebagai influencer. Di balik keanggunan gerak tari berhias bulu burung enggang, mereka adalah remaja-remaja kreatif yang memiliki basis pengikut besar di dunia maya. Lewat layar ponsel pintar, keelokan budaya Dayak Kenyah disebarluaskan, menjangkau layar-layar gawai generasi Z yang jauh dari pedalaman Kalimantan.
Sokongan Penuh dari Ruang Walikota
Langkah progresif ini rupanya mendapat angin segar dari pemerintah. Festival ini bukan lagi sekadar acara komunitas yang tertatih-tatih mencari sponsor.
Berkat adanya Peraturan Wali Kota yang melandasi legalitasnya, Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata turun tangan sepenuhnya untuk urusan pendanaan.
Bahkan, komitmen tersebut terasa lebih personal ketika Wali Kota Samarinda memberikan dukungannya secara langsung.
“Kami sudah melakukan audiensi dengan Pak Wali Kota, dan beliau turut membantu sekitar Rp100 juta dari dana pribadi untuk mendukung pelaksanaan festival ini,” ungkap Yusak.
Sinergi antara anggaran resmi kedinasan dan kocek pribadi sang kepala daerah menjadi bahan bakar ekstra bagi panitia untuk memastikan perhelatan ini berjalan tanpa cela.
Bagi warga Desa Pampang, festival ini adalah berkah yang nyata. Budaya tidak hanya dirawat untuk dikagumi, tetapi juga menjelma menjadi motor penggerak kesejahteraan.
Sebanyak 80 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal kini tengah bersiap menggelar produk terbaik mereka. Dari kilau manik-manik yang dirangkai menjadi kalung, anyaman rotan yang rapi, hingga kuliner khas yang memanjakan lidah.
“Dengan adanya festival ini, perekonomian masyarakat Desa Budaya Pampang ikut bergerak. UMKM kami merasakan langsung manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan,” tambah Yusak optimis.
Saat tirai festival dibuka akhir Juni nanti, Desa Budaya Pampang tidak hanya akan menyuguhkan hentakan musik petikan sampek, ritual adat yang sakral, atau keelokan tato tradisional.
Lebih dari itu, mereka sedang menunjukkan kepada dunia: bagaimana sebuah tradisi tua mampu bertahan, relevan, dan tetap hidup di tangan generasi mudanya.(Tr)















