Parlementaria

Keunikan Buah Mali yang Diborong Wakil Ketua DPRD Samarinda di Expo Pampang

Kehadiran expo UMKM dalam gelaran Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 tidak hanya memamerkan kain tenun atau manik-manik khas suku Dayak. Ada buah hutan juga, lho.

Halo, Sobat Nisita!Expo di Desa Budaya Pampang ternyata menjadi panggung bagi kekayaan hayati pedalaman Kalimantan yang mulai langka, salah satunya adalah buah hutan liar bernama buah Mali—atau yang akrab dikenal sebagai buah Kalangkala dalam bahasa Banjar.

Keunikan buah eksotis ini sukses menarik perhatian Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari. Saat meninjau deretan stan expo, srikandi parlemen Samarinda ini tampak semringah dan langsung memborong buah hutan yang pohonnya tumbuh liar di belantara Kalimantan tersebut.

Momen tersebut terekam dalam radar media saat sekantong plastik bening penuh berisi buah Mali diborong. Secara visual, buah Mali atau Kalangkala ini memiliki bentuk yang sangat unik: bulat dengan rona merah muda (pink) yang kontras, berpadu dengan kelopak buah tebal berwarna hijau kekuningan di bagian pangkalnya, serta tangkai kayu kecokelatan yang masih menempel.

“Oh, ini yang ada di Instagram,” seru Celni dengan nada antusias saat mengenali buah yang belakangan ini kerap melintas di beranda media sosial.

Melihat buah unik tersebut, seorang staf dewan sempat menyeletuk spontan, “Bisa dipencok (dijadikan rujak).”

Namun, penjual di stan expo langsung mengingatkan agar buah tersebut tidak dikonsumsi secara langsung secara sembarangan. “Harus direndam dulu dengan air panas. Kalau langsung dimakan bisa gatal di lidah,” tutur sang pedagang mengedukasi pembeli.

Penampilan buah mali dalam bahasa Dayak Kenyah atau buah kalangkala dalam bahasa Banjar. Foto: Taufiq/Nisita

Cara mengolah buah Mali atau Kalangkala ini sebenarnya tergolong sangat sederhana. Buah cukup direndam menggunakan air hangat, air panas, atau bahkan air putih biasa. Kuncinya terletak pada pemberian sejumput garam ke dalam air rendaman. Proses penambahan garam ini tidak boleh berlebihan, sebab kandungan elektrolit pada garam dapat memicu perubahan warna pada kulit buah.

Setelah proses perendaman selesai, tekstur daging buah akan melunak. Rasanya pun bertransformasi menjadi unik: ada sentuhan sedikit manis, dominan kecut yang menyegarkan namun tidak terlalu asam, serta sensasi gurih yang lahir dari sisa garam. Di kalangan masyarakat lokal, buah ini biasanya sangat digemari sebagai lalapan pendamping nasi hangat dan ikan goreng.

Aksi Celni yang asyik berburu buah hutan di area pasar rakyat sempat memicu teguran santai dari rombongan pejabat lain yang turut hadir di lokasi expo. Menanggapi gurauan rekan-rekannya, Celni memberikan jawaban diplomatis yang sarat akan pesan pemberdayaan ekonomi.

“Ini pengembangan ekonomi rakyat,” ujar Celni membela para pedagang kecil lokal.

Bagi Celni, setiap transaksi kecil yang terjadi di dalam expo kebudayaan seperti ini adalah bukti nyata bagaimana kearifan lokal dan hasil bumi daerah mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara langsung di tingkat tapak.(Tr/*)

Related Posts

1 of 7