Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Sobat Muslim yang dirahmati Allah SWT, pernahkah kita benar-benar mengamati lingkungan di sekitar kita? Udara yang kian gerah, banjir yang kian sering menyapa, timbunan sampah yang tak kunjung usai, hingga krisis lingkungan yang perlahan merenggut kenyamanan hidup.
Al-Qur’an, melalui Surah Ar-Rum ayat 41, telah memberikan alarm yang begitu nyaring sejak 14 abad yang lalu:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Sobat Muslim, ayat ini bukan sekadar catatan teologis, melainkan sebuah cermin besar bagi kita untuk bermuhasabah. Ada tiga pesan mendalam yang harus kita renungkan bersama hari ini:
1. Kerusakan Ini Adalah Cerminan Perbuatan Kita (Bima Kasabat Aidin Naas)
Allah SWT menegaskan bahwa bencana, polusi, dan rusaknya ekosistem bukanlah kegagalan alam, melainkan dampak langsung dari ketamakan, kelalaian, dan egoisme tangan-tangan manusia. Berapa banyak sampah plastik yang kita buang sembarangan setiap hari? Seberapa sering kita abai terhadap kelestarian lingkungan sekitar hanya demi kenyamanan sesaat? Kerusakan di bumi adalah akumulasi dari dosa ekologis kecil yang kita lakukan secara konsisten.
2. Bencana Merupakan Bentuk “Teguran Kasih Sayang” (Liyuziiqahum Ba’dhalladzii ‘Amiluu)
Mengapa Allah membiarkan kita merasakan dampak dari kerusakan tersebut? Mengapa kita harus merasakan hawa panas, banjir, atau krisis air bersih? Itu semua adalah cara Allah menegur kita. Allah ingin kita merasakan langsung perihnya akibat dari perbuatan kita sendiri. Ini adalah bentuk kasih sayang-Nya agar kita tidak terus terlena dalam durhaka dan keserakahan yang bisa menghancurkan masa depan generasi setelah kita.
3. Muara Akhir yang Diharapkan: Kembali ke Jalan yang Benar (La’allahum Yarji’uun)
Tujuan akhir dari setiap ujian lingkungan ini adalah Yarji’uun—agar kita kembali. Kembali mengagungkan penciptaan Allah, kembali meluruskan niat, dan kembali menjalankan fungsi kita yang sesungguhnya di muka bumi ini, yaitu sebagai Khalifatul Ardh (pengelola dan penjaga bumi), bukan sebagai perusak (mufsid).
Sobat Muslim, muhasabah tanpa aksi nyata adalah kepalsuan. Melalui momentum ini, mari kita ubah cara pandang kita terhadap lingkungan. Menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan bijak, mengadukan pelanggaran lingkungan, serta menghentikan eksploitasi alam yang berlebihan bukan lagi sekadar urusan regulasi atau urusan dinas pemerintahan, melainkan sebuah tanggung jawab iman.
Setiap jengkal tanah yang kita rawat, setiap aliran air yang kita jaga kebersihannya, dan setiap sampah yang kita tempatkan pada tempatnya, kelak akan menjadi saksi keimanan kita di hadapan Allah SWT.
Ya Allah, ampunilah kelalaian kami yang telah ikut andil dalam mengotori dan merusak bumi-Mu. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa membawa perbaikan, menjaga amanah alam ini, dan ketuklah hati kami untuk selalu kembali ke jalan-Mu.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Selamat menebar maslahat di muka bumi, Sobat Muslim! (*/)















