“Kalau kita hanya memikirkan diri sendiri, hidup mungkin terasa aman. Tapi ada batasan pada apa yang bisa kita bantu jika kita hanya berdiri di luar pagar.” – Arbain, Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda Periode 2024-2029.
Sobat Nisita, menurut Abraham Maslow, puncak kebutuhan manusia adalah diakui eksistensinya setelah merasa nyaman dan aman. Namun tidak bagi Arbain.
Banyak orang menghabiskan hidupnya untuk mencari kesuksesan. Banyak pula yang butuh validasi setelah keamanan dalam berbagai aspek kehidupan diraih. Sedangkan Arbain menganggap semua itu hanyalah titik transit, bukan tujuan akhir.
Di saat orang seusianya mungkin memilih menikmati buah kerja keras setelah bertahun-tahun merintis usaha, pria kelahiran Loa Janan 53 tahun silam tersebut justru melakukan manuver. Ia memilih jalan yang penuh risiko: terjun ke dunia politik praktis.
Kursi legislatif di mata Arbain bukan tentang mengejar gaji atau status sosial. Ia sudah “selesai” dengan dirinya sendiri. Selama 17 tahun mengelola perusahaan, juga sempat menjadi petani, pedagang, hingga kontraktor, Arbain sebenarnya telah memiliki kemapanan ekonomi yang cukup. Di sinilah awal kisah terjun ke dunia politik itu bermula.
Memilih Masuk ke Dalam Sistem
Sobat, pilihan hidup Arbain sering kali memancing tanya: mengapa orang yang sudah mapan mau repot-repot mengurus urusan orang banyak yang tak jarang menguras energi dan pikiran?
Arbain memiliki jawaban yang pragmatis sekaligus filosofis. Ia sadar bahwa mengkritik keadaan dari luar, berteriak dari pinggir lapangan, atau sekadar memberikan bantuan sosial secara sporadis, tidak akan pernah cukup untuk menciptakan perubahan struktural.
Ia sampai pada satu kesimpulan mendasar: jika ingin memperbaiki kualitas hidup rakyat—khususnya para petani dan warga pinggiran yang dulu ia geluti—ia harus memegang “pena” untuk menulis kebijakan.
“Kalau kita mau memperbaiki sesuatu, ya harus masuk ke dalam sistem. Di situlah keputusan dibuat, di situlah kebijakan lahir. Menjadi legislator adalah cara saya untuk memperluas jangkauan manfaat,” tegasnya.
Politik sebagai Jalan Pengabdian
Perjalanannya tidak instan. Lulusan SMEA Muhammadiyah 2 Tahun 1994 itu tidak jatuh dari langit langsung menjadi politisi. Ia adalah pria yang dibentuk oleh proses. Dari seorang petani, Kaur Pembangunan di tingkat desa, hingga aktivis organisasi, setiap anak tangga yang ia lalui adalah sekolah kehidupan yang memberinya “ilmu lapangan” tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat.
Bagi Arbain, DPRD bukan tempat untuk mencari pekerjaan. Ia melihatnya sebagai ruang pengabdian di fase hidupnya saat ini. Politisi Partai Gerindra ini ingin membuktikan bahwa politik bisa dijalankan dengan integritas, tanpa harus kehilangan empati yang sejak dulu ia bangun.
Keberanian Arbain meninggalkan zona nyaman untuk masuk ke arena politik adalah sebuah pernyataan sikap: bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta yang terkumpul, melainkan dari seberapa besar dampak yang mampu ia bagi.
Kini, di kursi DPRD Kota Samarinda, Arbain bukan lagi sedang berdagang atau bertani untuk dirinya sendiri. Ia sedang “bertani” kebijakan, menanam benih-benih regulasi, dengan harapan kelak, masyarakat Samarinda-lah yang akan memanen hasilnya.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” Pernyataan berbentuk pertanyaan yang keluar dari mulut Arbain bukan sekadar retorik. Itu dorongan internal yang membuatnya terus bergerak melampaui batas zona nyamannya sendiri.(Tr/Adv/DPRD Samarinda)















