Oase

Hujan di Samarinda, Ruang untuk Menghela Napas

Sobat Nisita, Samarinda pagi ini bangun dengan cara yang tidak biasa. Sejak pukul setengah delapan, langit tidak lagi berbasa-basi; ia menumpahkan airnya dengan deras, membasahi jalanan yang sudah riuh dengan deru motor para pekerja yang bergegas, serta mengantar langkah anak-anak sekolah yang kini mungkin tengah berteduh di pelataran kelas atau lobi sekolah.

Di kota ini, hujan di jam sibuk selalu membawa cerita yang berbeda. Ada kepanikan kecil saat harus melipat jas hujan dengan terburu-buru, ada tumpukan kendaraan yang melambat di persimpangan jalan, dan ada aroma basah yang menyeruak dari sela-sela pemukiman pinggiran sungai.

Namun, di tengah hiruk-pikuk Samarinda yang sedang basah kuyup ini, marilah kita sejenak berhenti menjadi robot yang terobsesi dengan ketepatan waktu.

Bagi mereka yang sudah tiba di kantor dengan kemeja yang sedikit lembap, atau bagi anak-anak sekolah yang terpaksa membatalkan jam class meeting, hujan ini adalah “oase” yang datang tanpa diundang.

Ia memaksa kita untuk melambat. Saat dunia di luar sana sedang sibuk mengejar target bulanan atau tenggat tugas, hujan ini memberikan kita jeda—sebuah momen untuk berhenti sejenak dari kebisingan rutinitas.

Pernahkah kita menyadari bahwa terkadang, kita terlalu keras pada diri sendiri? Kita merasa hari ini “rusak” hanya karena cuaca tidak sesuai dengan rencana kita. Padahal, hujan adalah pengingat yang paling arif dari alam. Bahwa hidup tidak melulu soal rencana yang rapi dan langkah yang lurus. Ada kalanya, kita harus menerima “kekacauan” dengan lapang dada.

Bagi Anda yang sedang duduk di balik meja kerja atau di ruang kelas yang dingin, dengarkanlah suara hujan itu sekali lagi.

Di balik suara gemuruhnya yang mungkin membuat cemas, ada pesan tentang kehidupan yang terus berputar. Alam tidak pernah meminta izin untuk hujan, dan kota ini pun tidak pernah berhenti untuk bernapas meski diguyur badai.

Mungkin hari ini, di Samarinda, oase terbaik bagi jiwa kita bukan sebuah tempat pelarian, melainkan kemampuan untuk duduk tenang di tengah hujan.

Menikmati hangatnya segelas kopi atau teh di meja kerja sambil memandang air yang mengalir di kaca jendela, lalu menyadari bahwa di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus berlari, sesekali menjadi “tamu” bagi hujan bukanlah sebuah kesalahan.

Biarkan hujan membasuh penat di kepala. Kerjaan akan tetap ada, tugas akan tetap menanti, namun momen untuk merenung dan berdamai dengan keadaan adalah sesuatu yang hanya bisa kita ambil sekarang. Selamat menikmati pagi yang basah, Samarinda. Tetaplah hangat, tetaplah tenang.(*/)

Related Posts

1 of 9