Dalam sosiologi yang dicetuskan oleh Émile Durkheim, bunuh diri anomik terjadi ketika seseorang mengalami kebingungan atau kehilangan arah akibat norma dan nilai dalam masyarakat yang memudar, biasanya dipicu oleh perubahan sosial atau krisis ekonomi yang mendadak.
Nisita.info, Samarinda – Fenomena maraknya kasus bunuh diri di Kota Samarinda belakangan ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan.
Perilaku bunuh diri atau anomi yang dalam bahasa Inggris disebut “suicide” secara sosiologis didorong oleh integrasi sosial yang tinggi. Perubahan yang terlalu cepat saat penyatuan sosial mengakibatkan pelaku anomi tidak dapat beradaptasi, memahami, dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Sobat Nisita, menanggapi persoalan sosial yang kian mengkhawatirkan tersebut, Komisi IV DPRD Kota Samarinda memberikan solusi konkret. Yakni, penguatan kepekaan lingkungan mulai dari tingkat rukun tetangga (RT).
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menilai fenomena ini sebagai realitas sosial yang nyata dan dipicu oleh beragam kompleksitas masalah hidup. Mulai dari problem asmara, himpitan utang piutang, hingga tekanan mental lainnya.
Menurut Novan, salah satu langkah preventif yang paling krusial adalah memaksimalkan peran jajaran di ujung tombak pemerintahan, yakni ketua RT dan warga sekitar, untuk mendeteksi potensi konflik di lingkungannya.
“Hal ini sebenarnya kalau bicara peran kita, inilah perlunya memang edukasi yang pertama dari tingkat jajaran di ujung tombak, di RT. Kan, kalau kita melihat contoh misalnya ada keributan, potensi awal keributan di lingkungannya, ya, minimal dia (RT) bisa menetralisir hal-hal tersebut supaya apa? Supaya mampu mencegah perbuatan tindakan lanjutan,” ujar Novan, Kamis (2/7/2026).
Novan menambahkan, jika sinyal-sinyal depresi atau konflik domestik di tengah masyarakat cenderung diabaikan oleh lingkungan sekitar, maka warga yang sedang mengalami tekanan psikologis akan kehilangan arah. Terlebih, kondisi psikologis seseorang sangat dinamis dan sulit ditebak secara kasat mata.
“Tapi kalau misalnya hal begini tidak begitu digubris, ya akhirnya kan orang juga bingung ya mau seperti apa. Terus yang kedua, ya kalau bicara masalah—apalagi itu masalah asmara—kan repot kita, kita tidak pernah tahu kondisi psikologi seseorang,” imbuhnya.
Di sisi lain, Novan juga tidak menampik adanya pergeseran fenomena, di mana fasilitas publik seperti jembatan kerap dipilih menjadi lokasi tindakan nekat tersebut. Menyikapi hal itu, ia menilai ke depan perlu ada kajian bersama lintas sektor mengenai fasilitas keselamatan tambahan di area jembatan penyeberangan guna meminimalisir ruang bagi terjadinya tindakan fatal.
“Khususnya seperti Jembatan Mahakam, Jembatan Kembar itu kan fasilitas pengaman untuk pejalan kakinya kan enggak ada, cuma ada trotoar saja. Nah itu perlu juga dilakukan seperti itu (pagar pengaman), sehingga orang berpikir dua kali untuk melakukan keinginan tindakan bunuh diri karena tidak terfasilitasi oleh tempat yang ada,” pungkasnya.
Sobat, peran Ketua RT dan warga sangat vital dalam mencegah bahkan mengatasi persoalan-persoalan yang dapat memicu anomi. Dengan dukungan para pemangku kepentingan diharapkan jumlah tindakan suicide dapat ditekan.(Tr/Adv/DPRD Samarinda)















