DPRD Kota Samarinda

Potensi Multiplier Effect Samaqua Yang Disambut Ketua DPRD Kota Samarinda

Nisita.info, Samarinda — Pengembangan potensi lokal melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bukan sekadar tentang memproduksi barang, melainkan tentang bagaimana menciptakan dampak ekonomi yang meluas (multiplier effect) serta membangun daya saing komoditas di tingkat daerah maupun nasional.

Langkah PT Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda yang bersiap meluncurkan produk air minum kemasan mandiri menjadi contoh nyata bagaimana potensi sumber daya lokal dikelola untuk mendorong perekonomian mikro.

Ketua DPRD Kota Samarinda, H. Helmi Abdullah, menyambut positif langkah strategis yang diambil oleh Perumda Tirta Kencana. Menurutnya, kolaborasi antara BUMD dan dunia usaha swasta akan menjadi motor penggerak baru bagi rantai pasok dan perekonomian warga.

“Sesuai yang disampaikan Pak Wali, artinya dalam waktu dekat ini bagaimana pihak Perumda nanti bekerjasama dengan pihak-pihak swasta dalam hal memasarkan produknya. Sehingga ini akan menimbulkan efek ekonomi mikro terhadap masyarakat dan dunia usaha,” ujar Helmi Abdullah saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

​Ia menambahkan bahwa skema kemitraan ini membuka ruang kolaborasi yang saling menguntungkan, baik di tingkat distributor maupun konsumen akhir.

“Mereka bisa saling bermitra, baik itu sebagai penyaluran maupun nanti di tingkat masyarakat sebagai penggunanya. Tentu ini satu terobosan baru bagi kita, karena kalau bicara manfaat, ini manfaatnya banyak sekali,” tambahnya.

Ketua DPRD Kota Samarinda, H. Helmi Abdullah saat menghadiri launching air minum dalam kemasan lokal. (Foto: Nisita)

Dilihat dari kacamata ilmu ekonomi, keberhasilan suatu komoditas lokal—seperti air kemasan Perumda—sangat erat kaitannya dengan daya saing, yang diukur melalui keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.

1. Memanfaatkan Keunggulan Faktor (Teori Heckscher-Ohlin)
Dalam teori perdagangan Heckscher-Ohlin, suatu daerah atau negara akan memiliki keunggulan jika memanfaatkan faktor produksi yang melimpah. Kota Samarinda melalui Perumda Tirta Kencana memiliki kelimpahan sumber daya air dan infrastruktur pengelolaan dasar. Mengolah faktor produksi yang melimpah ini menjadi produk bernilai tambah tinggi adalah bentuk efisiensi alokasi sumber daya.

2. Biaya Imbangan

Pengembangan komoditas lokal juga memperhitungkan biaya alternatif (opportunity cost). Dengan memproduksi air kemasan secara mandiri dan menggaet mitra swasta lokal, biaya distribusi dapat ditekan dibanding harus bergantung penuh pada pasokan produk dari luar daerah.

3. Membangun Keunggulan Kompetitif

Meskipun keunggulan komparatif didasarkan pada ketersediaan sumber daya alam/faktor produksi, keunggulan tersebut harus ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif. Hal ini membutuhkan pengelolaan manajemen yang efisien, jaringan kemitraan yang luas, serta jaminan kualitas produk agar mampu bersaing secara berkesinambungan di pasar terbuka.

Inisiatif Perumda Tirta Kencana bersama Pemkot Samarinda menunjukkan bahwa optimalisasi keunggulan komparatif lokal—yang dipadukan dengan kemitraan strategis dunia usaha—dapat menjadi formula efektif dalam menggerakkan roda ekonomi daerah. (Tr/Adv/DPRD Samarinda)

Related Posts

1 of 12