Olah Pikir

Mengubah Legenda Bumi Etam Jadi “Emas Digital”

Oleh: Taufiqurrahman

SELAMA puluhan tahun, Kalimantan Timur dikenal dunia melalui kekayaan bawah tanahnya: batubara, minyak, dan gas bumi. Namun, di tengah diskursus mengenai transisi energi dan keberlanjutan, kita sering melupakan satu jenis “tambang” yang tidak akan pernah habis meski dikeruk berkali-kali.

Tambang itu adalah narasi—ribuan cerita rakyat, mitos, dan legenda yang berakar di sepanjang aliran Sungai Mahakam hingga ke pelosok rimba Borneo.

Pertanyaannya kini, apakah cerita-cerita itu akan tetap menjadi tutur lisan yang perlahan luntur, atau kita mampu mentransformasikannya menjadi aset digital yang bernilai ekonomi tinggi?

Belajar dari inisiatif “Bacarita Basudara” yang digagas Kementerian Ekonomi Kreatif baru-baru ini, ada pesan kuat yang harus kita tangkap: ekonomi kreatif adalah cara kita membawa identitas lokal ke forum global tanpa harus kehilangan jati diri. Di era digital, sebuah cerita bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah bahan baku utama bagi industri konten yang nilainya mencapai miliaran dolar.

Baca juga:  Wamen Ekraf Ajak Diaspora Maluku Utara Ubah Cerita Daerah Jadi Aset Digital

Bayangkan jika legenda Pesut Mahakam tidak hanya berhenti sebagai cerita asal-usul, tetapi bertransformasi menjadi karakter dalam video game bergenre petualangan, atau serial animasi dengan kualitas visual kelas dunia. Di sini, nilai ekonomi tercipta bukan hanya dari teknologi yang digunakan, melainkan dari “jiwa” atau narasi yang unik—sesuatu yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Strategi “Creative-Tech Fusion”

Transformasi cerita menjadi aset digital memerlukan apa yang disebut sebagai creative-tech fusion. Ini adalah perkawinan antara imajinasi seniman lokal dengan platform teknologi modern. Kalimantan Timur memiliki talenta muda yang luar biasa di bidang desain grafis, kepenulisan, dan sinematografi. Namun, tantangan terbesarnya adalah sinergi.

Kita butuh ekosistem di mana seorang penutur cerita rakyat di Kutai Barat bisa bertemu dengan pengembang aplikasi di Balikpapan atau ilustrator di Samarinda. Ketika sebuah legenda diunggah ke platform global seperti Webtoon, YouTube, atau pasar NFT, ia berubah menjadi aset digital yang “menyerang” pasar dunia secara masif. Cerita kita tidak lagi bersifat parokial atau kedaerahan, melainkan menjadi konsumsi universal.

Momentum IKN dan Kebangkitan Narasi

Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di tanah Kalimantan harus kita jadikan momentum kebangkitan narasi lokal. Mata dunia kini sedang tertuju pada kita. Ini adalah peluang emas untuk menunjukkan bahwa Kaltim bukan sekadar hamparan lahan industri, melainkan wilayah dengan kedalaman budaya yang luar biasa.

Pemerintah daerah perlu mengambil peran sebagai fasilitator melalui “dialog tanpa panggung”—menghilangkan sekat formalitas dengan para kreator muda. Kita butuh kebijakan yang mendukung infrastruktur digital dan proteksi kekayaan intelektual (IP) bagi karya-karya berbasis kearifan lokal.

Menjadikan cerita rakyat sebagai aset digital adalah upaya menjaga kedaulatan budaya di tengah arus globalisasi. Kita tidak ingin anak cucu kita nantinya lebih mengenal mitologi Yunani atau pahlawan super dari Barat daripada legenda dari tanah mereka sendiri hanya karena cerita kita gagal beradaptasi dengan medium digital.

Sudah saatnya kita berhenti hanya menjadi konsumen teknologi dan mulai menjadi produsen narasi. Mari kita “menambang” cerita, mengolahnya dengan kreativitas, dan mengemasnya dengan teknologi. Sebab, jika batubara bisa habis, cerita rakyat Kalimantan Timur adalah energi terbarukan yang akan terus menghidupkan ekonomi kreatif kita hingga masa depan.(***)

Related Posts

1 of 4