Di tengah gemerlap layar ponsel yang tak pernah tidur, Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak terlihat namun sangat nyata: perang narasi di ruang digital.
Nisita.info – Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) telah melontarkan pengingat keras bahwa persatuan kita kini diuji oleh derasnya arus hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian.
Dalam Forum Komunikasi Publik yang digelar di Batam, Sekretaris Utama BPIP, Tonny Agung Arifianto, menegaskan bahwa ruang digital yang dipenuhi fitnah dan narasi kebencian tidak hanya merusak citra pemerintah, tetapi secara perlahan mengikis rasa percaya antarsesama warga.
Pancasila, yang selama 81 tahun menjadi fondasi bangsa, kini harus ditransformasikan menjadi kompas etika dalam berselancar di media sosial.
Kenyataan hari ini diperparah dengan fenomena post-truth, sebuah kondisi di mana emosi dan opini publik sering kali lebih dipercaya ketimbang fakta empiris. Staf Ahli Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Raden Wijaya Kusuma Wardhana, menyoroti adanya kecenderungan di mana konten yang viral dianggap lebih sahih daripada kebenaran itu sendiri.
Dengan lebih dari 229 juta pengguna internet, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap perpecahan akibat potongan video atau judul provokatif yang belum terverifikasi.
Hamdan Hamedan, Tenaga Ahli Utama BAKOM RI, menyatakan bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini bukan lagi soal akses informasi, melainkan bagaimana kita menjaga akal sehat di tengah kebisingan digital.
Di sinilah nilai-nilai Pancasila menjadi relevan: sebagai filter untuk menahan diri sebelum membagikan informasi yang memecah belah.
Pentingnya etika digital ini melampaui batas-batas domestik. Pakar Diplomasi Publik, Dino Patti Djalal, mengingatkan bahwa dunia internasional kini tidak hanya menyoroti kebijakan pemerintah, melainkan juga mengamati bagaimana masyarakat Indonesia berinteraksi di ruang publik digital.
Citra Indonesia sebagai bangsa yang plural dan damai akan dipertaruhkan oleh perilaku warganet di media sosial.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini membawa pesan bahwa Pancasila bukanlah artefak sejarah atau sekadar slogan upacara. Menghidupkan Pancasila di era digital bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana: berhenti sejenak sebelum menekan tombol share, tidak ikut menyebarkan ujaran kebencian, dan tetap menghormati perbedaan pendapat.
Pada akhirnya, persatuan bangsa di masa depan ditentukan oleh apa yang kita pilih untuk dipercayai dan disebarkan hari ini. Di ruang digital yang penuh dengan distraksi, menjaga Pancasila adalah cara kita menjaga martabat bangsa di mata dunia.(*/BPIP RI)















