Sekolah-Kampus

‎Adaptif, Kelompok 125 KKN PLP Unmul Pilih Budidaya Cacing Ketimbang Magot

Berkunjung ke Kantor Kelurahan Sungai Pinang Luar, aroma tanah basah dan cacahan batang pisang menyapa hangat siapa saja yang melintas.

Nisita.info, Samarinda – Karung berisi limbah organik dan kotak-kotak kayu tertata rapi di area Kantor Kelurahan Sungai Pinang Luar. Di sinilah tempat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PLP) Angkatan ke-52 Universitas Mulawarman (UNMUL) terus berkarya.

‎Hari itu, Sabtu (8/8/2026) sebuah cerita sederhana tentang keberlanjutan dan kepekaan sosial sedang dirajut. Awalnya, gagasan yang muncul terbilang populer: merintis budidaya maggot BSF untuk mengurai sampah dapur.

‎Secara teori, maggot adalah bintang utama dalam pengelolaan limbah organik masa kini. Namun, ketika melangkah langsung ke tengah permukiman warga dan membaur dengan keseharian mereka, para mahasiswa menemukan realita lain yang tak kalah berharga. Di sana, geliat budidaya cacing tanah rupanya telah lebih dulu mengakar dan dijalankan oleh warga setempat.

“Pada dasarnya, saya memahami bahwa budidaya maggot memiliki peluang usaha yang cukup besar, terutama dalam pemanfaatan sampah organik dan sebagai pakan alternatif,” tutur Fadillah Rifky Pratama, Ketua Kelompok 125.

‎Alih-alih membawa ide baru yang berisiko redup begitu masa KKN usai, Fadillah dan kawan-kawan memilih untuk meredam ego akademis mereka. Mereka memilih memutar kemudi program: tidak memaksakan hal baru, melainkan menguatkan potensi yang sudah bernapas di tanah tersebut.

‎”Kami menemukan bahwa di sana sudah terdapat masyarakat yang menjalankan budidaya cacing. Jadi kami mempertimbangkan untuk tidak membuat program yang benar-benar baru, tetapi lebih memilih mengembangkan potensi yang sudah ada,” ujar mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UNMUL itu. Bagi tim KKN PLP Kelompok 125, langkah ini jauh lebih realistis, efektif, dan menghargai pengalaman warga yang sudah ada.

Di kotak berisi tanah inilah cacing dibudidayakan. (Foto: Han/IST)

Pilihan tersebut bukanlah tanpa alasan nilai ekonomi. Cacing tanah kini menjadi komoditas yang dicari—mulai dari bahan baku obat penurun panas dan suplemen farmasi, tepung protein tinggi untuk pakan ternak, hingga pupuk organik berkualitas (kasgot) yang menyuburkan tanaman. Yang lebih istimewa, media budidaya cacing memanfaaatkan limbah organik sekitar seperti batang pisang dan sisa sayuran segar, sehingga menekan biaya operasional hingga titik terendah.

Fokus mahasiswa kini beralih ke sentuhan-sentuhan penguatan: memoles tata kelola media, merancang pengemasan yang menarik, mendampingi pemanfaatan hasil panen, hingga membuka akses pemasaran yang lebih luas agar nilai ekonomi cacing tanah ini melesat naik.

‎”Saya berharap kehadiran kami bukan hanya membuat kegiatan baru yang berjalan selama KKN saja, tetapi dapat memberikan pengembangan yang bisa terus dilanjutkan oleh masyarakat setelah kami selesai,” terang Fadillah.

Sobat Nisita, di Sungai Pinang Luar, KKN Kolaborasi UNMUL 2026 membelajarkan satu hal penting: pemberdayaan sejati bukanlah tentang seberapa keren ide yang kita bawa, melainkan seberapa dalam kita mau mendengar dan merawat potensi yang sudah hidup di tengah masyarakat.(Han/Tr)

Related Posts

1 of 8