Daerah

Andi Harun di Pampang: Perayaan Identitas, Memori Kolektif, hingga ‘Green Constitution’

Nisita.info, Samarinda – Pemimpin daerah dan seluruh elemen masyarakat harus belajar banyak dan mendengar lebih luas dari kearifan lokal masyarakat adat.

Pesan bernada reflektif tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Samarinda, H. Andi Harun, saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 di Desa Wisata Budaya Pampang, Kamis (25/6/2026).

Di hadapan Wakil Wali Kota, Forkopimda, dan para tokoh adat, Andi Harun menyatakan bahwa festival tahunan yang dirangkai dengan syukur panen dan HUT Desa Budaya Pampang ini sama sekali bukan seremonial belaka. Bagi orang nomor satu di Samarinda tersebut, ada tiga pelajaran fundamental dan esensial yang wajib direnungkan bersama.

1. Perayaan Identitas yang Tak Pernah Lapuk

Pelajaran pertama yang disoroti adalah festival sebagai ruang merayakan identitas. Andi Harun mengibaratkan bahwa baju adat bisa rusak dan perisai kayu bisa lapuk dimakan usia, namun identitas budaya Dayak Kenyah tidak akan pernah berubah.

“Bagaimana masyarakat Dayak Kenyah mempertahankan nilai kehidupan yang diwariskan leluhur, terus terhubung dengan Tuhan, dan mempraktikkan gotong royong dari membajak hingga memanen padi. Itu adalah esensi identitas yang hidup,” ujar Wali Kota setelah merefleksikan momen saat dirinya diarak di atas perahu adat Alud Adang.

2. Merawat Memori Kolektif Lintas Generasi

Mengutip pemikiran sosiolog Prancis, Wali Kota mengingatkan pentingnya mengaktifkan memori kolektif. Tanpa adanya perayaan yang konsisten setiap tahun, generasi masa depan tidak akan pernah tahu seberapa keras para leluhur bekerja bersama demi menyediakan sumber kehidupan. Kebudayaan menjadi satu-satunya jembatan yang menjaga nilai tersebut tetap tersambung lintas generasi sekaligus menjadi benteng dari serbuan budaya baru yang berpotensi meruntuhkan nilai luhur bangsa.

3. Warisan Peradaban dan Amanat Green Constitution

Poin ketiga sekaligus yang paling menyentuh ranah ekologis adalah esensi di balik simbol-simbol fisik Dayak. Andi Harun menekankan bahwa di balik sumpit, perisai, parang, dan keindahan tarian Dayak, warisan tertinggi dari leluhur adalah sebuah peradaban yang menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam.

Andi Harun secara terbuka mengingatkan para pemimpin dan seluruh pihak agar berhati-hati dalam mengelola alam, berkaca pada rentetan peristiwa banjir dan tanah longsor yang kerap melanda tanah Borneo.

“Para pemimpin dan kita semua tidak boleh serakah mengeruk kekayaan alam ini. Kita tidak boleh habisi dengan cara tidak bijaksana. Ingat, yang hidup hari ini bukan cuma kita, masih ada anak cucu kita yang membutuhkan alam tersebut,” cetusnya tegas.

Di akhir sambutannya, Wali Kota menghubungkan kearifan ekologis Dayak ini dengan komitmen tata negara, di mana konstitusi Indonesia sendiri telah menjamin konsep Green Constitution (Konstitusi Hijau) sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945. Bumi, air, dan kekayaan alam harus dikelola dengan bijaksana demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, baik generasi hari ini maupun generasi yang akan datang.(TR/*)

Related Posts

1 of 38