Nisita.info — Di dunia sinema, ada pepatah yang mengatakan bahwa film adalah cermin dari jiwa pembuatnya. Bagi Diva, mahasiswi asal Kutai Kartanegara, film adalah cara ia berdamai dengan rasa minder masa remajanya sekaligus cara ia mencintai tanah kelahirannya.
Nama Diva mendadak harum di kancah nasional saat perhelatan Kreativesia 2025 di Palembang. Ia bukan sekadar peserta; ia pulang sebagai juara, membawa nama “Bumi Etam” ke jajaran sineas muda yang mulai diperhitungkan di Indonesia.
Diva mengenang kembali awal perjalanannya dengan senyum tipis. Pada September 2025, sebuah pesan masuk dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar. Itu adalah ajakan untuk mewakili daerah dalam ajang bergengsi. Ajakan itu tidak datang begitu saja—Diva adalah “anak lama” di industri kreatif lokal. Sejak bangku SMA, ia sudah memproduksi sekitar tujuh hingga delapan film pendek.
“Dulu saat SMA, saya sempat merasa minder masuk ke dunia film,” akunya saat berbincang hangat pada Selasa (21/4). Namun, rasa penasaran ternyata jauh lebih kuat daripada rasa ragu. Ia pun memutuskan untuk terjun sepenuhnya, belajar dari satu produksi ke produksi lainnya.
Karya yang membawanya ke puncak prestasi berjudul Betasrul. Film ini bukan sekadar tontonan visual, melainkan sebuah narasi yang menggabungkan kepercayaan budaya Kutai dengan konflik sosial yang mendalam.
Dalam Betasrul, Diva mengeksplorasi ketegangan batin: keinginan sederhana untuk makan yang berbenturan dengan ketakutan akan kepuhunan—sebuah mitos lokal yang sangat dihormati. Di tangan Diva, nasihat seorang ibu dalam film tersebut menjadi perekat antara tradisi dan realitas modern.

Proses produksinya tergolong kilat namun intens. Di sela-sela tumpukan tugas kuliah, Diva menghabiskan waktu satu bulan untuk merampungkan karyanya—satu minggu untuk naskah, dua hari syuting, dan sisanya untuk penyuntingan. “Kuliah tetap berjalan, produksi tetap jalan,” kenangnya.
Meski prestasinya sudah mencapai level nasional, Diva tidak lantas jemawa. Ia justru melihat adanya “ruang kosong” yang perlu segera diisi di daerahnya sendiri: ruang apresiasi. Ia bermimpi suatu hari nanti pemerintah daerah bisa menghadirkan wadah yang lebih representatif bagi para penggiat seni.
“Jangan takut. Kadang kita merasa sudah punya dasar, tapi masih ragu mencoba. Justru rasa penasaran itu yang harus dijalani. Terjun saja, yang penting ada kemauan,” pesannya untuk anak muda Kukar lainnya.
Diva kini menatap cakrawala yang lebih luas. Ia tidak ingin berhenti di Palembang atau Jakarta; ia membayangkan langkah yang lebih jauh menuju festival film internasional. Baginya, cerita-cerita lokal Kutai memiliki kekuatan untuk berbicara kepada dunia.
Dan mungkin, suatu hari nanti, saat layar besar terbentang di pusat Kutai Kartanegara dan film-film karya anak daerah diputar, kita akan mengingat bahwa nama Diva adalah salah satu penulis awal dari babak baru kejayaan sinema Kalimantan Timur. (Abd/pt/tr)














