Kita hidup di era yang luar biasa bising. Setiap hari, telinga dan gawai kita dibombardir oleh ribuan kata, notifikasi, video pendek yang berteriak, hingga perdebatan tanpa ujung di kolom komentar.
Sobat Nisita, pernahkah Anda merasa bahwa di tengah semua kebisingan itu, kita justru semakin jarang benar-benar “mendengar” satu sama lain?
Hari ini, 10 Juni, kita memperingati Hari Bahasa Isyarat Nasional (HBIN). Bagi teman-teman Tuli, bahasa isyarat adalah jembatan utama untuk meruntuhkan dinding sunyi dan menegaskan eksistensi mereka.
Namun bagi kita semua, momen ini sesungguhnya adalah sebuah oase untuk merenungkan kembali esensi dari cara kita berkomunikasi manusia modern.
Cobalah sesekali perhatikan suasana di ruang keluarga atau meja makan di rumah-rumah hari ini. Secara fisik, semua orang duduk berdekatan. Namun secara jiwa, masing-masing sibuk menyelami dunianya sendiri lewat layar kaca gawai.
Suara televisi mungkin terdengar, obrolan-obrolan pendek mungkin terlontar, tetapi komunikasi yang mendalam terasa semakin absen. Kita sering kali berbicara hanya untuk sekadar memecah kesunyian, bukan untuk membangun kedekatan.
Bahasa isyarat mengajarkan hal yang sebaliknya. Dalam dunia isyarat, komunikasi membutuhkan kehadiran yang utuh. Anda tidak bisa mengisyaratkan sesuatu sambil memalingkan muka ke layar ponsel.
Anda harus menatap mata lawan bicara, membaca ekspresi wajah, dan memperhatikan gerak tubuh. Ada ketulusan yang menuntut fokus penuh; sebuah kemewahan yang perlahan hilang dari interaksi manusia urban.
Dari sudut pandang lain, refleksi tentang “bahasa” ini juga menyinggung bagaimana kita sering kali menjadi tunawicara terhadap akar budaya kita sendiri.
Di banyak rumah hari ini, anak-anak muda sangat fasih meniru bahasa gaul internet atau istilah asing, namun perlahan-lahan kehilangan “bahasa ibu”—kosakata daerah yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur kita.
Ketika sebuah kata daerah atau bahasa ibu punah dari percakapan di meja makan, yang hilang bukan sekadar untaian huruf, melainkan sebuah “rasa,” kehangatan, dan cara pandang khas dalam menghormati kehidupan. Kita mendadak gagap mengenali identitas diri kita sendiri di tanah kelahiran.
Memperingati Hari Bahasa Isyarat Nasional adalah ajakan bagi kita untuk menundukkan ego ego sektoral kita. Komunikasi yang sejati tidak diukur dari seberapa keras kita bersuara atau seberapa banyak kata yang kita ketik di laptop dan ponsel. Komunikasi sejati lahir dari kemauan untuk hadir secara utuh, melihat dengan mata hati, dan memahami apa yang tidak terucapkan.
Malam ini, saat berkumpul bersama keluarga, cobalah untuk menurunkan layar gawai Anda. Tatap mata orang-orang tercinta di hadapan Anda, kesampingkan kebisingan dunia luar, dan mulailah mendengarkan dengan cara yang paling arif. Karena kadang, kehangatan terbesar justru lahir di saat kita mampu memahami arti di balik sebuah kesunyian.(*/)
Foto oleh RDNE Stock project














