Nisita.info — Nama Nadita Aisyah Fitri tak asing lagi di arena Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kalimantan Timur. Tahun ini, qoriah asal Kecamatan Sangkulirang ini kembali menorehkan prestasi gemilang. Untuk pertama kalinya turun di cabang Tilawah Dewasa Putri pada MTQ ke-45 Kaltim di Kutai Timur, Nadita langsung menyabet juara pertama.
“Alhamdulillah, ini pengalaman pertama di kelas dewasa. Terharu dan senang banget bisa langsung juara,” ujar Nadita, pada Minggu (20/7/2025).
Konsistensi Nadita di dunia tilawah sudah teruji. Sejak 2019, ia lima kali berturut-turut menjuarai MTQ tingkat provinsi, empat kali di kategori remaja. Rekam jejaknya di level nasional pun impresif: Juara Harapan 1 MTQ Nasional 2020 di Sumatera Barat, Juara Harapan 2 PTQ Nasional 2022 di Jawa Barat, dan Juara 1 MTQ Nasional 2024 di Kaltim.
Meski belum diumumkan siapa wakil Kaltim untuk MTQ Nasional berikutnya, Nadita siap bersaing lagi di seleksi lanjutan. “Insyaallah tetap berusaha dan berdoa, semoga bisa mewakili Kaltim lagi,” harapnya.
Untuk mencapai prestasi itu, Nadita menjalani pelatihan intensif tujuh bulan bersama kafilah Kutim. “Latihannya padat, tantangannya bukan cuma fisik, tapi juga mental,” ujarnya. Di luar kompetisi, Nadita aktif mengajar di TPA dan melatih tilawah anak-anak di kampungnya.
Kecintaannya pada Al-Qur’an tumbuh sejak SD, terinspirasi teman sebangku yang bersuara merdu. “Ternyata membaca Al-Qur’an itu luar biasa berkahnya,” kata Nadita.
Ia juga menaruh hormat besar pada para guru yang membentuk semangatnya. “Dulu guru saya bilang, kalau ikut lomba jangan setengah-setengah. Kejar prestasi tertinggi,” kenangnya.
Kini, Nadita menyimpan harapan besar: mewakili Indonesia di ajang internasional. “Ingin sekali jadi duta Indonesia di tingkat dunia,” ucapnya penuh tekad.
Di masa depan, ia ingin dikenang tak hanya sebagai juara, tetapi sebagai pendidik yang menyalakan semangat generasi baru untuk mencintai Al-Qur’an. “Saya ingin seperti guru-guru saya, yang ilmunya berdampak untuk banyak orang,” tuturnya.
Pesannya sederhana namun mendalam: “Belajar Al-Qur’an bukan sekadar cari gelar, tapi mencari ridha Allah. Kalau niatnya lurus, insyaallah berkahnya mengikuti.”(Ty)















