Nisita.info, Samarinda — Ketika musim kemarau melanda, berita kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali menghiasi layar kaca kita. Namun, tahukah kamu mengapa kebakaran di kawasan lahan gambut—seperti yang kerap terjadi di kawasan Jalan Irigasi, Palaran, Samarinda—jauh lebih sulit ditaklukkan dibanding kebakaran tanah biasa?
Mari kita bedah sains di baliknya. Kebakaran lahan gambut memiliki keunikan sekaligus tantangan besar bagi para petugas pemadam kebakaran (firefighters) di lapangan. Jika kebakaran tanah mineral hanya melalap vegetasi di atas permukaan, api di lahan gambut justru menjalar di bawah permukaan tanah (fire underflow).

Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan, ranting, dan dedaunan yang melapuk selama ribuan tahun. Karena itu, tanah gambut kaya akan bahan organik berbasis karbon.
Saat kemarau ekstrem tiba dan kadar airnya menyusut, lapisan gambut berubah fungsi menjadi layaknya spons raksasa yang sangat kering dan mudah terbakar.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, menjelaskan bahwa fenomena api bawah tanah inilah yang membuat proses pemadaman di area Palaran membutuhkan tenaga dan perlakuan ekstra.
“Lahan gambut ini kalau kita bilang memadamkannya agak susah. Karena ketika dipadamkan di atas permukaan, titik apinya bisa muncul atau hidup lagi dari dalam tanah,” ujar Deni usai memimpin Rapat Hearing Komisi III DPRD Samarinda, Selasa (15/9/2026).
Meski api di atas tanah terlihat sudah padam dan hanya menyisakan asap, bara api di kedalaman 1 hingga 2 meter bawah tanah sebenarnya masih terus membara pada suhu tinggi. Jika angin bertiup kencang, bara tersembunyi ini akan menyulut kembali kebakaran baru di lokasi yang sama.
Inovasi Sains: Mengenal Teknik ‘Suntik Gambut’ dan Teknologi Modern
Untuk menembus bara api yang bersembunyi di dalam tanah, teknik menyiram air dari atas permukaan tanah saja tidak lagi memadai. Kini, tim pemadam gabungan memanfaatkan inovasi sains dan teknologi mutakhir:
-
Metode Suntik Gambut (Undercooling)
Petugas menggunakan pipa atau batang besi berlubang khusus (lance pipe) yang ditancapkan menembus kedalaman 1 hingga 2 meter ke dalam tanah. Air bertekanan disalurkan langsung menuju pusat bara api bawah tanah.
-
Cairan Surfaktan MES (Methyl Ester Sulfonate)
Air pemadam dicampur dengan cairan surfaktan ramah lingkungan berbasis minyak nabati. Cairan ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga air dapat meresap cepat ke pori-pori gambut yang bersifat menolak air (hydrophobic). Formula ini terbukti efektif mengikat oksigen dan menurunkan suhu tanah dari 120°C menjadi normal dalam waktu singkat.
-
Pemanfaatan Drone Thermal & Kolam Bioflok Portabel
-
Drone Thermal: Memetakan titik panas (hotspot) dan suhu bara api tersembunyi secara presisi dari udara.
-
Kolam Bioflok Portabel: Ditentukan di sekitar lokasi sebagai wadah penampung air cepat pasang untuk meracik cairan surfaktan di area terpencil.
-
Mengingat tingginya alokasi sumber daya, risiko kesehatan akibat asap pekat, dan rumitnya teknik pemadaman gambut, langkah pencegahan dari masyarakat adalah benteng pertahanan terbaik.
DPRD Kota Samarinda melalui Komisi III terus mengedukasi dan mengimbau warga agar meningkatkan kesadaran lingkungan. Masyarakat diminta untuk tidak sekali-kali melakukan pembukaan lahan (land clearing) dengan cara membakar, terutama di kawasan pesisir dan pinggiran Kota Tepian yang berstruktur tanah gambut.
Dengan memahami sains di balik kebakaran gambut, diharapkan masyarakat Kota Samarinda semakin bijak dalam menjaga kelestarian lingkungan demi udara yang bersih dan aman bagi generasi mendatang. (Tr/Adv/DPRD Samarinda)















