Halo, Sobat Nisita! Kecerdasan artifisial alias AI sudah canggih bujur. Kalau dulu membuat film itu butuh kru, kamera mahal, dan skill tingkat dewa, sekarang siapa pun bisa bikin video atau film sendiri lewat teknologi AI generatif. Keren? Banget! Tapi di balik kecanggihannya, ternyata ada “PR” besar buat Lembaga Sensor Film (LSF) kita, Sob!
Wamenkomdigi Nezar Patria baru-baru ini mengingatkan dalam acara di Bogor bahwa kemudahan bikin film pakai AI ini punya sisi lain yang cukup rawan. Mulai dari risiko penyalahgunaan deepfake (suara atau wajah orang diduplikasi tanpa izin untuk mengatakan hal yang tidak pernah mereka ucapkan), sampai maraknya film pendek dan drama mini ber-AI yang lolos dengan konten kekerasan atau pornografi.
“Generative AI bisa menciptakan sesuatu yang baru. Dengan teknologi ini, kita bisa membuat gambar atau foto, bahkan menduplikasi suara seseorang untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dia ucapkan,” ujar Wamen Nezar, seperti dikutip dari siaran pers Kementerian Komdigi.
Tantangannya di mana?
Bayangin aja, Sob, dalam setahun LSF harus menyensor sekitar 40 ribu film, tapi petugas penilainya cuma ada sekitar 110 orang saja! Kewalahan? Pastinya. Makanya, AI sebenarnya bisa dipakai buat bantu mendeteksi adegan secara cepat.
Tapi tenang, Wamen Nezar menegaskan kalau keputusan akhir tetap harus di tangan manusia. Kenapa? Karena AI cuma bisa ngenalin gambar atau suara, tapi belum tentu paham konteks dan pesan mendalam dari sebuah karya film. Kalau cuma mengandalkan mesin, pesan cerita yang ingin disampaikan sutradara bisa meleset jauh.
“AI bisa membantu mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami konteks dan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Ketika kita hanya melihat hasil identifikasi mesin, ada kemungkinan pesan cerita yang sebenarnya tidak tertangkap. Karena itu, proses penilaian tetap membutuhkan manusia,” tegas Nezar.
Makanya, literasi soal AI dan etika digital ini sekarang jadi bekal penting banget buat para pengawas film agar tetap bisa merangkul kemajuan zaman tanpa kecolongan konten negatif.
Gimana menurut Sobat Nisita? Kira-kira bakal seperti apa ya wajah perfilman kita kalau ke depannya makin banyak film yang murni bikinan AI?
Sumber: Siaran Pers Kementerian Komunikasi dan Digital / Olahan Redaksi Nisita.info















