DPRD Kota Samarinda

Reses Ismail Latisi: Asa Air Bersih dari Balik Perbukitan Kota Samarinda

Jarum jam baru saja melewati angka empat sore. Sisa-sisa sejuk usai kumandang azan Asar perlahan menguap, digantikan oleh keringat yang mulai bercucuran deras. Sore itu, perjalanan kami menuju lokasi Reses Masa Sidang II Anggota DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, mendadak berubah menjadi sebuah ujian fisik yang tak terduga.

Nisita.info, Samarinda – Untuk mencapai lokasi pertemuan dengan warga di salah satu kawasan perbukitan di Jalan Damai, Kelurahan Sidodamai, kami berjalan kaki menaiki anak tangga beton yang curam. Jalurnya menanjak terjal, memotong lereng bukit yang jamak.

Langkah demi langkah terasa kian berat. Terengah-engah berkejaran dengan waktu acara yang dijadwalkan mulai pukul 16.00 WITA. Namun, rasa lelah sore itu mendadak luruh begitu kami tiba di puncak. Di sana, puluhan pasang mata warga telah menanti dengan penuh harap.

Bagi mereka, tanjakan curam yang membuat napas kami nyaris habis ini adalah rute perjuangan harian. Dan ironisnya, di atas puncak bukit yang indah ini, mereka justru masih harus berjuang melawan satu musuh klasik: krisis air bersih.

Persoalan pemenuhan hak dasar atas air bersih hingga kini memang masih menjadi momok yang membayangi warga perbukitan Kota Samarinda. Topografi wilayah yang berbukit-bukit menciptakan sebuah garis batas kesejahteraan yang kontras bagi pelanggan Perumdam Tirta Kencana.

Ismail Latisi, legislator dari Fraksi PKS yang sore itu tampak hangat menyapa konstituennya meski guratan lelah sisa menanjak masih terlihat, mengakui adanya disparitas distribusi ini.

“Berdasarkan usulan masyarakat yang masuk ke kami, prioritas paling utama saat ini adalah air bersih. Memang untuk beberapa wilayah bawah seperti di lingkungan RT 17 dan RT 29, alhamdulillah airnya sudah mengalir lancar. Tapi begitu kita bicara kawasan gunung, ini yang belum,” tutur Ismail Latisi dengan nada prihatin saat berbincang santai di sela-sela kegiatan.

Inilah anak tangga yang harus dilalui warga sekitar setiap harinya. Foto: Nisita

Dari catatan serap aspirasi sore itu, Ismail merinci bahwa keluhan keran kering ini merata terjadi di sejumlah titik dataran tinggi, di antaranya RT 18. Akibat terkendala tekanan pompa dan jaringan pipa yang belum memadai untuk melawan gravitasi.

Warga di atas bukit harus mengeluarkan energi dan biaya ekstra keras hanya demi memenuhi kebutuhan domestik sehari-hari.

Membawa ‘Jeritan Warga’ ke Meja Paripurna

Gaya pendekatan Ismail yang akrab membuat suasana reses di atas bukit mengalir tanpa sekat. Ia tidak memberikan janji-janji manis yang melambung, melainkan menawarkan sebuah peta jalan advokasi yang logis dan terukur melalui jalur parlemen.

Sebagai wakil rakyat, ia sadar bahwa menyelesaikan masalah distribusi air di kawasan dengan topografi ekstrem seperti ini tidak bisa menggunakan metode biasa.

“Di daerah gunung ini kita memang perlu kerja ekstra keras. Aspirasi dari RT-RT yang belum teraliri air bersih secara maksimal ini tidak akan menguap begitu saja. Semua akan kami himpun menjadi laporan resmi per daerah pemilihan (dapil),” tegas Ismail.

Draf laporan komprehensif itulah yang nantinya akan dikawal dan disuarakan secara resmi oleh Ismail Latisi dalam Sidang Paripurna DPRD Kota Samarinda. Tujuannya jelas, intervensi anggaran perlu dilakukan melalui program perluasan jaringan pipa kedap tekanan tinggi dan penguatan booster pompa air.

Pertemuan sore itu akhirnya ditutup saat matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala perbukitan Samarinda. Kami melangkah turun menyusuri anak tangga yang sama dengan perasaan yang berbeda.

Jika saat naik kami mengeluhkan napas yang sesak, kini ada optimisme yang tertinggal di atas sana—bahwa jeritan warga gunung tentang air bersih, kini telah menemukan jalannya menuju gedung parlemen. (TR/Adv/DPRD Samarinda)

Related Posts

1 of 5