Nisita.info – Digitalisasi pendidikan di Indonesia baru saja melewati fase kolosalnya. Dengan lebih dari 288 ribu unit Interactive Flat Panel (IFP) yang kini tersebar di berbagai satuan pendidikan, pemerintah telah menyelesaikan pekerjaan rumah berupa distribusi fisik.
Namun, sejarah mencatat bahwa kecanggihan perangkat keras sering kali berakhir menjadi “monumen digital” yang berdebu jika tidak dibarengi dengan transformasi sumber daya manusia.
Langkah Kemendikdasmen menggandeng alumni LPDP melalui program “Alumni Pejuang Digital” adalah sebuah pengakuan jujur: bahwa teknologi sehebat apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan peran fasilitasi manusia dalam ruang kelas.
Filosofi yang diusung Dirjen PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, patut digarisbawahi. Beliau menegaskan bahwa digitalisasi harus bergerak dari sekadar bagi-bagi perangkat menuju pemanfaatan maksimal. Kehadiran IFP di sekolah—terutama di wilayah 3T seperti Kupang, Halmahera Utara, hingga Merauke—bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memicu interaksi, kreativitas, dan inovasi.
Tantangan terbesarnya bukan lagi pada konektivitas kabel, melainkan pada “konektivitas mental” guru terhadap teknologi tersebut. Tanpa pendampingan, IFP berisiko hanya digunakan sebagai pengganti papan tulis konvensional atau layar proyektor pasif. Padahal, potensi sejatinya terletak pada kemampuan layar interaktif tersebut untuk menyajikan simulasi, media ajar multimedia, dan pembelajaran kolaboratif yang inklusif.
Intelektual Muda sebagai Jembatan Digital
Keterlibatan 150 alumni LPDP sebagai “Pejuang Digital” membawa dimensi baru dalam pengabdian negara. Para penerima beasiswa ini dikirim bukan sekadar untuk menjadi teknisi komputer, melainkan sebagai mentor pedagogik. Selama tiga bulan, mereka memikul beban untuk membangun community of practice—sebuah ekosistem di mana guru tidak merasa sendirian dalam bereksperimen dengan teknologi.
Pembekalan intensif 63 jam pelajaran yang mereka terima menunjukkan bahwa pemerintah ingin intervensi ini dilakukan secara terukur. Lima aspek utama yang disasar, mulai dari pengembangan media interaktif hingga pendampingan manajerial kepala sekolah, menunjukkan pendekatan yang holistik. Digitalisasi sekolah tidak akan berkelanjutan jika hanya menyasar guru di kelas tanpa dukungan kebijakan dari meja kepala sekolah.
Menuju Ekosistem Digital yang Berkelanjutan
Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2026 telah memberikan payung hukum yang kuat bagi percepatan ini. Namun, keberhasilan sejati dari program ini akan terlihat saat para Alumni Pejuang Digital ditarik kembali ke daerah asalnya. Pertanyaannya: apakah pemanfaatan IFP akan terus berlanjut atau meredup seiring selesainya masa tugas pendamping?
Membangun kebiasaan belajar berbasis teknologi di wilayah dengan keterbatasan akses adalah kerja maraton, bukan lari sprint. Sinergi antara infrastruktur canggih, dana abadi pendidikan (LPDP), dan semangat pengabdian di garis depan (3T) adalah modal kuat yang kita miliki. Kini, publik menanti bukti bahwa panel-panel interaktif di pelosok negeri tersebut benar-benar menjadi jendela bagi anak-anak bangsa untuk melihat dunia dengan lebih luas, bukan sekadar pajangan dinding yang mahal.(tr)















