Nisita.info, Samarinda – Suasana di Posyandu Sehati, Kecamatan Samarinda Ilir, tampak ramai pada Kamis (30/4/2025). Namun dari total 52 orang yang menjadi sasaran pelayanan hari itu, jumlah warga yang hadir untuk melakukan pemeriksaan kesehatan—termasuk balita yang memerlukan penimbangan berat serta pengukuran tinggi badan—ternyata tidak sampai separuhnya.
Ketua Posyandu Sehati, Siti Rabiah, membeberkan alasan di balik sulitnya mendongkrak angka kehadiran masyarakat hingga mencapai target 100 persen. Menurutnya, faktor geografis dan kondisi ekonomi menjadi alasan utama keengganan warga untuk datang ke Posyandu. Kedekatan lokasi pemukiman dengan Puskesmas membuat sebagian warga lebih memilih langsung berobat ke sana. Di sisi lain, warga dari kalangan ekonomi mampu cenderung memilih untuk berkonsultasi ke dokter pribadi.
Berbagai upaya sebetulnya telah dilakukan oleh para kader untuk menarik minat warga. Namun, hasilnya belum sesuai harapan.
“Walaupun sudah kami umumkan di masjid dan grup WhatsApp, bahkan kami datangi door to door (rumah ke rumah), masih banyak yang tidak hadir. Itulah mengapa kader kami harus orang-orang yang berjiwa sosial tinggi, karena memang tidak ada honor tetap,” ungkap Siti Rabiah.
Perjalanan Posyandu Sehati dari waktu ke waktu dipenuhi dengan kisah perjuangan para kadernya. Siti menceritakan bagaimana mereka dulu harus mengandalkan alat seadanya, seperti meteran kain, sebelum akhirnya mendapatkan bantuan alat ukur yang lebih modern.
Tantangan bagi para kader kesehatan saat ini pun semakin berat. Di tengah keterbatasan yang ada, mereka kini dituntut untuk menguasai 25 kompetensi dasar dan 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM). Kondisi ini membuat pelatihan intensif bagi para kader baru menjadi kebutuhan yang sangat mendesak demi menjaga kualitas pelayanan.
Tidak hanya masalah peningkatan kapasitas SDM, keterbatasan fasilitas penunjang medis juga masih membayangi. Untuk pemenuhan alat pemeriksaan kesehatan dasar, para kader terpaksa harus memutar otak. “Untuk alat cek gula darah dan kolesterol, saat ini kami masih swadaya pakai milik pribadi,” tambah Siti.
Meski bergerak murni atas dasar semangat kemanusiaan dan kerelaan sosial, Siti Rabiah tidak menampik bahwa dukungan stimulus dari pemerintah sangat dinantikan. Kehadiran dana Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) diakuinya telah memberikan angin segar bagi keberlangsungan operasional Posyandu.
Melalui kucuran dana Probebaya tersebut, Posyandu Sehati kini terbantu dalam penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang berkualitas bagi balita. Selain itu, adanya alokasi bantuan honor dari program tersebut menjadi suplemen penyemangat yang sangat berarti bagi para kader yang selama ini telah mendedikasikan waktu dan tenaganya tanpa pamrih demi kesehatan masyarakat sekitar. (Taufiqurrahman)














