DPRD Kota Samarinda

Hari Perpunas 2026: DPRD Samarinda Ajak Keluarga Bangun Perpustakaan Mini

Menyambut Hari Perpustakaan Nasional (Harperpusnas) yang diperingati setiap tanggal 17 Mei, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda menyampaikan ucapan selamat sekaligus refleksi mendalam mengenai arah literasi masyarakat di era digital.

Nisita.info — Di tengah masifnya penggunaan gawai, eksistensi buku dan perpustakaan justru dinilai menjadi benteng pertahanan terakhir untuk menjaga kualitas berpikir generasi muda.

Melalui momentum Harperpusnas 2026 ini, DPRD Kota Samarinda mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah kota untuk kembali menghidupkan budaya membaca, dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, memberikan catatan kritis mengenai fenomena bergesernya minat baca masyarakat. Saat ini, mayoritas publik lebih gemar mengonsumsi informasi instan dan singkat di media sosial ketimbang menelaah halaman demi halaman sebuah buku. Padahal, ada bahaya laten yang mengintai di balik layar gawai.

“Media sosial itu memberikan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan. Karena algoritma di dalamnya hanya akan terus menyajikan apa yang sering kita lihat atau sukai,” ujar Ismail secara lugas.

Kondisi tersebut, lanjut Ismail, berisiko membuat masyarakat sulit menerima sudut pandang lain karena terbiasa disuapi informasi yang seragam. Atas dasar itulah, ia menegaskan bahwa peran buku sebagai sumber pengetahuan yang komprehensif tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

“Tidak ada yang bisa menggantikan buku. Kita bisa mencontoh negara-negara maju seperti Jepang dan Finlandia. Mereka bahkan mulai kembali menggalakkan penggunaan buku cetak untuk memperkuat fondasi budaya literasi warganya,” tambahnya.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. Foto: Nisita

Sebagai langkah konkret untuk menumbuhkan minat baca sejak dini, Ismail menaruh harapan besar pada peran aktif orang tua. DPRD Samarinda mendorong agar setiap rumah tangga di Kota Tepian mulai menyisihkan ruang kecil sebagai sudut baca atau perpustakaan mini.

“Hendaknya setiap keluarga punya perpustakaan kecil di rumah. Tidak perlu mewah, yang penting ada akses buku untuk anak-anak. Dari kebiasaan membaca di rumahlah wawasan anak akan berkembang, dan mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijak, kritis, serta toleran,” tuturnya hangat.

Tak hanya memberikan motivasi bagi ranah domestik keluarga, Komisi IV DPRD Samarinda juga menaruh perhatian pada aspek pelayanan publik. Ismail mendorong para pustakawan dan pengelola perpustakaan daerah di Samarinda untuk terus menelurkan kreativitas agar wajah perpustakaan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh generasi muda.

“Perpustakaan jangan sampai terkesan kaku, sunyi, dan membosankan. Harus ada inovasi dari segi tata ruang dan fasilitas pendukung supaya anak-anak zaman sekarang mau datang, merasa nyaman, dan betah membaca di sana,” cetus Ismail.

Guna memperluas akses, DPRD Kota Samarinda juga menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan operasional perpustakaan yang lebih fleksibel. Salah satunya adalah usulan agar perpustakaan daerah tetap membuka layanannya pada malam hari atau saat hari libur akhir pekan. Langkah ini dinilai sangat berpihak pada masyarakat urban, pekerja, maupun mahasiswa yang sibuk di jam kerja reguler agar tetap memiliki kesempatan untuk mencari referensi bacaan.

“Selamat Hari Perpustakaan Nasional 2026. Mari kita jadikan momentum ini untuk bergerak bersama, menghadirkan inovasi literasi yang ramah dan inklusif demi mewujudkan masyarakat Kota Samarinda yang cerdas, berwawasan luas, dan siap menyongsong masa depan,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda/*)

Related Posts

1 of 4