Oase

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon yang berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Sobat Nisita, Juni, dalam ingatan kolektif kita, adalah masa di mana matahari bersinar terik, tanah mulai retak, dan musim kemarau menyapa.

Hujan yang turun di bulan Juni dianggap sebagai anomali yang indah—sebuah rindu yang tabah, yang datang melampaui takdir waktunya.

Namun, beberapa hari terakhir ini, warga Samarinda barangkali merasakan sensasi yang berbeda saat membaca ulang puisi legendaris karya Sapardi Djoko Damono ini.

Kemarin, sepanjang malam, hingga riuh dini hari tadi, langit Samarinda tidak sedang menunjukkan ketabahan yang sunyi.

Sebaliknya, langit menumpahkan gemuruhnya. Hujan lebat mengguyur sudut-sudut kota, memaksa kita terjaga di keheningan sepertiga malam, mendengarkan hantaman air di atas atap seng, dan mungkin bagi sebagian orang, mulai cemas menengok halaman rumah yang perlahan menggenang.

Hujan Juni di Samarinda hari ini bukan lagi rintik rindu yang dirahasiakan. Ia datang dengan jujur, masif, dan menghentak kesadaran kita.

Fenomena ini seolah menjadi oase kontemplasi bagi kita yang hidup di era modern. Alam sedang mengirimkan surat terbukanya tanpa amplop.

Ketika garis musim menjadi samar—di mana Juni yang seharusnya kering justru basah kuyup—kita diajak untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang serba cepat.

Saat terjebak di dalam ruangan karena hujan yang tak kunjung usai, atau saat menyeruput kopi hangat di waktu subuh yang dingin, ada ruang kosong di hati kita yang mendadak terisi.

Hujan lebat ini, dengan segala dampaknya pada aktivitas kota, adalah pengingat yang arif tentang kuasa di luar kendali manusia. Manusia boleh punya rencana, teknologi boleh kian canggih, namun alam selalu punya cara untuk menegosiasikan kembali ruangnya.

Jika hujan Juni milik Sapardi menghapus jejak kakinya yang ragu-ragu, maka hujan Juni di Samarinda kali ini meninggalkan jejak yang nyata: aroma tanah basah (petrichor) yang menusuk hidung, hawa dingin yang memeluk kota, dan momen refleksi di jendela kamar.

Ia memaksa kita melambat, menurunkan ego, dan menerima bahwa ada kalanya hidup harus dihadapi dengan kesiapan menerima limpahan hal-hal yang tak terduga.

Mari melihat hujan ini sebagai oase. Sebuah jeda yang diberikan langit agar kita tidak terus-menerus berlari mengejar dunia yang bising.

Biarkan gemercik airnya membasuh penat di kepala, dan biarkan maknanya diserap dalam-dalam oleh jiwa kita yang sering kali lupa untuk bersyukur dan merenung.(*/)

Related Posts

1 of 9