Nisita.info, Samarinda — Menjelang peringatan Hari Perpustakaan Nasional yang jatuh pada 17 Mei, sebuah refleksi besar mendesak untuk diurai di Kota Tepian. Saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Samarinda yang kini perkasa di angka 83,53—naik dari tahun sebelumnya sebesar 83,11.
Pencapaian IPM yang tinggi didorong oleh tiga indikator utama: kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Pada sektor pendidikan dan akses pengetahuan inilah, dinamisnya transformasi digital menuntut Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk tidak sekadar mempertahankan eksistensi bangunan fisik perpustakaan, melainkan mendefinisikan ulang fungsinya secara radikal.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, memberikan analisis mendalam saat ditemui di Gedung DPRD Samarinda, Jalan Basuki Rahmat, Rabu (13/5/2026). Ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi telah mengubah lanskap pencarian informasi secara total.
“Sekarang dengan kecanggihan dunia digital, dunia digital itu sendiri sudah menjadi perpustakaan yang selalu update setiap detik. Kalau dulu kita harus berjalan ke pusat-pusat bacaan fisik, sekarang semua sudah terdigitalisasi,” ujar Anhar.
Politisi ini mencontohkan betapa mudahnya generasi muda membedah pemikiran-pemikiran besar dunia tanpa harus menyentuh lembaran kertas.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar. Foto: Nisita
“Sekarang sudah ada AI dan Google. Semua orang kalau mau membaca buku tokoh bangsa seperti Tan Malaka, mereka cukup melakukan penelusuran di Google. Dunia digital dan media sosial telah mengembangkan cara berpikir anak-anak muda kita secara mandiri. Ini adalah tantangan nyata bagi pemerintah dalam mengembangkan perpustakaan daerah,” tambahnya.
DPRD Kota Samarinda memandang tantangan digital ini bukan sebagai lonceng kematian bagi perpustakaan, melainkan sebuah peluang emas bagi Pemkot Samarinda untuk melakukan lompatan inovasi (quantum leap).
Menjelang Hari Perpustakaan Nasional, legislatif mendorong pemerintah daerah untuk melakukan penetrasi digitalisasi yang agresif pada sistem kearsipan dan layanan literasi kota.
Perpustakaan modern Samarinda ke depan tidak boleh lagi hanya menjadi deretan rak buku yang berdebu dan sunyi. Pemkot dimotivasi untuk menyulap perpustakaan menjadi hub atau pusat komunitas kreatif, di mana teknologi seperti AI dan mesin pencari Google diadopsi sebagai fasilitas publik, bukan dianggap sebagai kompetitor.
Tingginya angka IPM Samarinda di level 83,53 harus berbanding lurus dengan kualitas literasi masyarakatnya. Ketersediaan infrastruktur internet dan gadget di tangan masyarakat harus diimbangi dengan kemampuan memfilter informasi (digital literacy), agar pertumbuhan pemikiran anak muda tidak tersesat dalam arus hoaks di media sosial.
Momentum Hari Perpustakaan Nasional tahun ini diharapkan menjadi titik balik bagi Pemkot Samarinda untuk bergerak cepat, kreatif, dan inovatif dalam membangun ekosistem literasi berbasis digital yang inklusif.
Sebab, kota yang hebat tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik, tetapi dari seberapa cerdas dan visioner generasi muda yang lahir dari rahim literasinya. (tr/DPRD Samarinda/ADV)