Nisita.info – Kabar baik datang dari dunia pendidikan Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengumumkan pencapaian luar biasa dalam upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra.
Per tanggal 11 Februari 2026, seluruh sekolah yang terdampak bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah berhasil melaksanakan kembali kegiatan pembelajaran atau mencapai progres 100 persen.
Pengumuman ini disampaikan dalam rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Rabu lalu. Capaian ini menjadi fondasi krusial bagi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi fisik di tiga provinsi tersebut.
Menteri Abdul Mu’ti memaparkan data komprehensif terkait infrastruktur pendidikan yang terdampak. Secara total, terdapat 4.863 sekolah yang mengalami kerusakan dengan rincian sebagai berikut:
| Tingkat Kerusakan | Jumlah Sekolah |
| Rusak Ringan | 3.409 sekolah |
| Rusak Sedang | 925 sekolah |
| Rusak Berat | 437 sekolah |
| Relokasi | 92 sekolah |
Aceh menjadi wilayah yang terdampak paling luas dengan 3.073 sekolah, disusul Sumatra Utara (1.168 sekolah), dan Sumatra Barat (622 sekolah). Penilaian kerusakan difokuskan pada pemulihan ruang-ruang esensial seperti ruang kelas, perpustakaan, ruang administrasi, dan ruang kepala sekolah agar proses belajar-mengajar dapat segera bergulir.
Meskipun infrastruktur belum sepenuhnya rampung direhabilitasi, Kemendikdasmen memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak pendidikannya. Strategi yang diterapkan mencakup penggunaan tenda darurat dan sistem menumpang di sekolah lain.
-
Aceh: 3.001 sekolah kembali ke gedung asal, 52 di tenda darurat, dan 20 sekolah menumpang.
-
Sumatra Utara: 1.142 sekolah kembali ke gedung asal, 26 menggunakan tenda darurat.
-
Sumatra Barat: 599 sekolah kembali ke gedung asal, 21 di tenda darurat, dan 2 sekolah menumpang.
“Total untuk pembelajaran sudah 100 persen. Jumlah sekolah yang belajar di tenda terus menyusut seiring selesainya proses pembersihan lahan,” jelas Menteri Mu’ti.
Langkah taktis Kemendikdasmen mendapat apresiasi tinggi dari Sekretaris Kabinet, Teddy Indrawijaya. Ia menilai sinergi antara kementerian, TNI/Polri, relawan, dan warga sebagai kerja konkret yang membuahkan hasil dalam waktu singkat, yakni hanya dua bulan pascabencana.
Senada dengan itu, Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Tito Karnavian, memuji ketepatan identifikasi data yang dilakukan Kemendikdasmen.
“Mendikdasmen memiliki timeline pasti atas apa yang akan dikerjakan. Beliau berikan bantuan melalui satgas untuk pembersihan bersama TNI/Polri, dan setelah itu pembangunan fisik sekolah akan segera dilakukan,” pungkas Tito.
Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa pemulihan Sumatra berjalan di jalur yang tepat, dengan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam membangun kembali kehidupan masyarakat.(HM-KPDM/*)















