Nisita.info – Seorang anak berusia sepuluh tahun sedang asyik dengan gawainya. Tiba-tiba, sebuah video muncul, seorang tokoh idola sang anak terlihat sedang membagikan hadiah mewah melalui siaran langsung.
Suaranya persis, wajahnya tak ada beda. Tanpa ragu, si anak menekan tautan yang diminta, memasukkan data pribadi keluarga, dan dalam hitungan menit, saldo tabungan orang tuanya ludes.
Ia tidak sadar bahwa yang ia lihat bukanlah manusia, melainkan deepfake—sebuah realitas sintetis hasil rakitan Kecerdasan Artifisial (AI).
Di sinilah letak bedanya: anak yang hanya menjadi “penerima pasif” akan langsung percaya, sementara anak yang dilatih critical thinking (berpikir kritis) akan berhenti sejenak dan bertanya, “Mengapa idola ini meminta data rahasia untuk sebuah hadiah?”
Kisah di atas bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan ancaman nyata yang disoroti oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria.
Dalam Forum Saling Jaga Tunas Bangsa di Tangerang Selatan, Selasa (20/01/2026), Nezar menegaskan bahwa berpikir kritis kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keterampilan bertahan hidup yang paling berharga.
“Ini kunci membuat kita waras dan sehat di dunia digital. Kemampuan memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi menjadi modal agar kita tidak hanya menjadi penerima pasif,” ujar Nezar.
Strategi 3 Tahap: Belajar dari MIT
Bagaimana orang tua bisa mulai membangun fondasi ini? Wamen Nezar merujuk pada strategi riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang dikenal dengan metode Learn, Evaluate, dan Reflect:
-
Learn (Belajar): Anak perlu memiliki basis pengetahuan yang kuat dari dunia nyata, seperti membaca buku atau berdiskusi. Tujuannya agar cakrawala berpikir mereka tidak dikurung oleh algoritma media sosial yang hanya menyajikan apa yang mereka sukai.
-
Evaluate (Evaluasi): Membangun skeptisisme yang sehat. Ajarkan anak untuk selalu menggugat setiap klaim yang mereka lihat di layar. Jangan langsung percaya meski konten tersebut terlihat meyakinkan.
-
Reflect (Refleksi): Mengidentifikasi apakah sebuah konten itu autentik atau sekadar “realitas sintetis”. AI masa kini mampu memanipulasi foto wajah menjadi konten pornografi atau alat perundungan (bullying). Di tahap inilah anak diajak menyadari bahaya tersebut.
Melawan “Defisit Pertanyaan”
Satu fenomena mengkhawatirkan yang ditangkap oleh Wamenkomdigi adalah “defisit pertanyaan” di kalangan generasi muda.
Saat ini, banyak anak yang piawai memberikan jawaban instan karena bantuan mesin, namun gagap saat harus mengajukan pertanyaan kritis.
“Kita lebih banyak menerima daripada melakukan gugatan terhadap apa yang disajikan. Padahal, kemampuan mengajukan pertanyaan atau menggugat sebuah informasi jauh lebih penting daripada sekadar memberikan jawaban,” tegas Nezar.
Melalui slogan Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga, Kementerian Komunikasi dan Digital berkomitmen mengawal ruang digital Indonesia agar tetap ramah bagi tumbuh kembang anak.
Namun, regulasi pemerintah hanyalah pagar luar; benteng terdalam dan terkuat tetaplah ada pada pikiran kritis anak-anak kita yang dilatih sejak dari meja makan rumah sendiri.
Di era di mana kebenaran seringkali dikalahkan oleh kecanggihan mesin, pertanyaan kritis seorang anak adalah cahaya yang akan menjaga mereka tetap aman.(HM-KKD/*)















