Nisita.info – Keterbatasan geografis bukan lagi alasan untuk membiarkan kualitas pendidikan tertinggal. Pemerintah terus mempertegas komitmennya dalam mentransformasi pendidikan di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Tak hanya soal teknologi, kesejahteraan guru di ujung negeri kini menjadi prioritas utama sebagai fondasi membangun SDM unggul.
Sebagai bentuk keberpihakan nyata, pada tahun 2025 pemerintah telah menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) dengan angka yang fantastis. Tercatat sebanyak 43.393 guru di daerah 3T menerima tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan, dengan total anggaran mencapai Rp636,7 miliar.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Nunuk Suryani, menegaskan bahwa praktik baik yang lahir dari para guru di wilayah 3T adalah bukti nyata bahwa dedikasi mampu mengalahkan keterbatasan.
“Cerita praktik baik dari para guru menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Pemerintah akan terus memastikan dukungan yang lebih merata, mulai dari kompetensi, distribusi guru, hingga akses internet dan Papan Interaktif Digital,” ujar Nunuk dalam keterangan resminya, Jumat (20/2/2026).
Bertaruh Nyawa di Atas Ombak
Namun, di balik angka-angka subsidi pemerintah, terselip kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Salah satunya datang dari Risky Jalil, seorang guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Sejak 2024, ia harus berhadapan dengan ganasnya ombak demi sampai ke sekolah.
“Tantangan terbesar bukan hanya fasilitas, tapi transportasi menuju sekolah, terutama saat cuaca buruk dan ombak keras. Selain itu, akses internet dan buku juga masih sangat terbatas,” ungkap Risky.
Meski tanpa alat peraga canggih, Risky tak hilang akal. Ia memanfaatkan benda-benda di sekitar, seperti batu, untuk mengajarkan konsep operasi hitung dasar kepada murid-muridnya. Pendekatan emosional menjadi senjatanya dalam meningkatkan literasi dan rasa percaya diri siswa di pelosok.
Dampak Nyata Tunjangan Khusus
Bagi pengabdi seperti Risky, Tunjangan Khusus Guru (TKG) yang disalurkan pemerintah memberikan dampak psikologis dan stabilitas yang signifikan. Tunjangan tersebut tak hanya membantu kesejahteraan, tapi juga menjadi bahan bakar motivasi untuk tetap bertahan di daerah terpencil.
“Dengan adanya tunjangan tersebut, guru lebih termotivasi untuk melaksanakan tugas secara optimal dan berkomitmen untuk tetap mengabdi. Dampaknya, proses pembelajaran menjadi lebih stabil,” jelasnya.
Harapan besar kini digantungkan pada pemerataan kualitas fasilitas dan teknologi. Dengan sinergi antara kebijakan pusat, dedikasi guru di lapangan, serta dukungan masyarakat, mimpi melihat anak-anak di wilayah 3T memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang di kota besar kini perlahan mulai menampakkan wujudnya.(BKHM-KPDM/*)















