DPRD Kota Samarinda

Sentuhan dan Kehadiran Ayah Jadi Benteng Mencegah Stunting

Harus ada kerja sama di dalam rumah tangga dulu. Kalau lingkungan keluarga sudah kompak dan peduli menjaga kesehatan anak, baru kita bisa membawa dampak positif yang lebih luas bagi Kota Samarinda. — Yakob Pangedongan, Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda.

Nisita.info — Sebuah pemandangan hangat tersaji di sebuah sudut kamar anak ketika malam mulai melarut. Seorang pria dewasa—masih mengenakan kemeja kerja kantor tanpa dasi yang sedikit tertekuk di bagian lengan—duduk bersila di tepi kasur.

Dengan mimik wajah jenaka dan tiruan suara karakter dongeng yang lucu, ia sibuk membacakan buku cerita sebelum tidur.

Ponsel dan laptop kerjanya sengaja ia letakkan jauh di luar kamar. Di momen sepuluh menit itu, dunia pekerjaannya sejenak berhenti. Yang ada hanyalah tawa renyah sang buah hati yang mendengarkan penuh antusias.

Bagi psikologis dan tumbuh kembang anak, sepuluh menit perhatian utuh tanpa gangguan gawai (quality time) jauh lebih bernilai dibanding berjam-jam berada di rumah namun pikiran sang ayah tersita oleh balasan pesan pekerjaan.

Bahkan ketika tugas dinas luar kota merentangkan jarak ratusan kilometer, layar ponsel pintar menjadi jembatan kehangatan. Di dalam kamar hotel tempatnya menginap, sang ayah tersenyum lebar menatap layar panggil video, mendengarkan celoteh riang anaknya yang memamerkan gambar terbaru atau mainan kesayangannya. Jarak geografis terbukti bukan rintangan untuk tetap menjadi pendengar yang baik bagi sang anak.

Gambaran visual ini menegaskan pesan moral mendalam: keterlibatan emosional dan kehadiran figur ayah bukanlah sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama bagi tumbuh kembang anak yang optimal.

Bukan Cuma Tugas Ibu

Pentingnya peran aktif seorang ayah di dalam rumah tangga turut disuarakan oleh Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Yakob Pangedongan, M.Si. Usai meninjau Kick Off program GARASI ANAK dan GASAKKAN di Posyandu Berkat Do’a Ibu, Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, Rabu (9/9/2026), ia memberikan catatan khusus mengenai isu pengasuhan anak dan pencegahan stunting.

Selama ini, urusan pemantauan gizi, membawa anak ke Posyandu, hingga pencegahan stunting sering kali dianggap sebagai domain dan tanggung jawab ibu semata. Padahal, stunting bukan sekadar persoalan makanan di atas piring, melainkan dampak multidimensi dari pola asuh, tingkat stres ibu, dan keharmonisan keluarga.

“Peran ayah itu sama pentingnya dengan ibu. Tidak mungkin penanganan stunting ini hanya dibebankan kepada ibu saja,” ujar Yakob menekankan.

Yakob mengingatkan para kepala keluarga agar tidak membatasi peran mereka sebatas pemenuh kebutuhan finansial keluarga. Keterlibatan emosional ayah dalam mendampingi ibu, memperhatikan kesehatan makanan anak, serta menciptakan suasana rumah yang minim stres sangat menentukan tumbuh kembang fisik dan mental balita.

“Ayah juga harus peduli tentang bagaimana pencegahan stunting ini. Tugas ayah bukan hanya cari duit, tetapi bagaimana memantau dan mengurus tumbuh kembang anak secara bersama-sama dengan ibu di rumah,” tegasnya.

Kerja sama yang solid di dalam rumah tangga menjadi benteng pertama sebelum program-program intervensi kesehatan dari pemerintah maupun organisasi profesi masuk ke masyarakat. Ketika ayah dan ibu bergerak beriringan, tumbuh kembang anak terjaga, dan risiko stunting dapat ditekan sejak dari rumah. (Tr/Adv/DPRD Samarinda)

Related Posts

1 of 13