DPRD Kota Samarinda

Bukan Memusnahkan: 4 Catatan Kritis Menuju Kemandirian Sampah di Samarinda

Nisita.info, Samarinda – Pengadaan teknologi insinerator (mesin pembakar sampah) di Kampung Baqa, Kelurahan Baqa, menjadi langkah taktis yang diantisipasi mampu memangkas tumpukan puluhan ton residu harian Kota Samarinda. Namun, catatan kritis dari ruang legislatif mengingatkan kita bahwa solusi akhir masalah lingkungan tidak boleh berhenti di cerobong asap.

Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim

Pengolahan sampah terbaik idealnya bertumpu pada konsep ekonomi sirkular sejak dari hulu. Menilik pandangan dari Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, berikut adalah 4 insight mendalam mengenai peta jalan pengelolaan sampah kota yang patut kita renungkan bersama:

1. Manajemen Sampah Ideal Selesai di Hulu

Solusi terbaik dari krisis penumpukan sampah perkotaan bukanlah membangun tempat pemusnahan yang megah, melainkan memotong rantai distribusinya sejak dari akar. Pengelolaan sampah yang matang seharusnya sudah tuntas di tingkat lingkungan terkecil, mulai dari lingkup rumah tangga, RT, hingga RW, sebelum residunya menyentuh Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

2. Prinsip Sirkular: Mendaur Ulang, Bukan Memusnahkan

Membakar sampah di dalam insinerator adalah langkah jangka pendek untuk mereduksi volume fisik. Namun, paradigma utama jangka panjang yang harus dibangun di tengah masyarakat adalah konsep ekonomi sirkular: reduce, reuse, dan recycle.

“Prinsip pengelolaan sampah ini memang sebaiknya adalah bukan memusnahkan, tetapi mendaur ulang dan memanfaatkan ulang (reuse),” urai Abdul Rohim secara blak-blakan.

3. Mengubah Sisa Makanan Menjadi Protein Lewat Budidaya Maggot

Di beberapa daerah percontohan, pemilahan sampah organik rumah tangga terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Sisa makanan dan sampah dapur disulap menjadi pakan maggot (larva lalat BSF). Maggot yang kaya protein ini kemudian dimanfaatkan sebagai pakan murah berkualitas tinggi untuk sektor peternakan dan budidaya ikan mandiri warga setempat.

4. Insinerator Adalah Solusi Transisi, Bukan Akhir

Keberadaan teknologi insinerator modern (seperti konsep Advanced Waste Predator yang mengandalkan pembersihan emisi berlapis via cyclone dan wet scrubber) sangat krusial saat ini untuk memotong volume residu inorganik kering hingga 90%. Namun, teknologi canggih ini hadir justru karena sistem pemilahan di level rumah tangga belum berjalan masif. Target akhirnya tetaplah kemandirian warga dalam mengelola sisa konsumsinya secara bijak.

Pengolahan sampah berbasis teknologi tinggi hulu-hilir hanyalah alat bantu operasional kota. Kunci utama keberhasilan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan tetap berakar pada perubahan perilaku kita di meja makan dan dapur rumah masing-masing. Sudahkah Anda memilah sampah hari ini? (Tr/Adv/DPRD Samarinda)

Related Posts

1 of 7