Sobat Nisita, tepat hari ini, 35 tahun yang lalu, sejarah mencatat salah satu amukan alam terbesar di abad ke-20. Pada 15 Juni 1991, Gunung Pinatubo yang terletak di Pulau Luzon, Filipina, terbangun dari tidur panjangnya selama 500 tahun dengan ledakan yang luar biasa dahsyat.
Erupsi ini melepaskan miliaran ton magma, abu vulkanik yang membumbung hingga 40 kilometer ke atmosfer, serta menciptakan awan panas yang menyapu apa saja di sekitarnya.
Namun, di balik bencana kemanusiaan yang memilukan tersebut, Pinatubo meninggalkan sebuah fenomena sains yang mengubah cara pandang manusia terhadap iklim global.
Jika biasanya polusi atau emisi membuat bumi semakin panas, erupsi Gunung Pinatubo justru mendatangkan efek sebaliknya. Pasca-erupsi, para ilmuwan mencatat terjadinya penurunan suhu global sekitar 0.5 derajat Celcius yang bertahan selama hampir dua tahun (1991–1993).
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Berikut adalah proses ilmiah di baliknya:
1. Injeksi Aerosol Sulfat
Letusan dahsyat Pinatubo menyemprotkan sekitar 20 juta ton gas belerang dioksida jauh hingga ke lapisan stratosfer bumi.
2. Terbentuknya ‘Tabir Surya’ Alami
Di atmosfer, gas ini bereaksi dengan air dan membentuk aerosol asam sulfat. Aerosol ini kemudian menyebar ke seluruh dunia terbawa angin global.
3. Memantulkan Cahaya Matahari
Lapisan aerosol ini bertindak seperti cermin raksasa atau tabir surya alami yang memantulkan kembali radiasi sinar matahari ke luar angkasa sebelum sempat mencapai permukaan bumi.
Pelajaran Penting bagi Krisis Iklim Modern
Fenomena “pendinginan global” pasca-erupsi Pinatubo kini menjadi cetak biru (blueprint) bagi para ilmuwan yang meneliti Geoengineering atau rekayasa iklim. Beberapa peneliti mulai memikirkan opsi untuk sengaja menyemprotkan aerosol ke atmosfer guna menahan laju pemanasan global akibat efek rumah kaca—sebuah ide eksperimental yang sepenuhnya terinspirasi dari Pinatubo.
Peringatan 35 tahun erupsi Pinatubo hari ini menjadi pengingat penting bagi kita yang hidup di Indonesia, negara yang sama-sama dikepung oleh cincin api aktif (Ring of Fire).
Sains telah membuktikan bahwa gunung berapi bukan sekadar ancaman lokal bagi warga di lerengnya, melainkan sebuah kekuatan masif yang mampu mengontrol dan mendikte cuaca serta iklim di seluruh dunia.(*/)














