DPRD Kota Samarinda

Warisan Ketulusan dari Gang Family, Arie Wibowo Merawat Pengabdian Sang Ayah di Parlemen

Langkah kaki Arie Wibowo, S.E., S.H., menyusuri koridor Gedung DPRD Kota Samarinda kini terasa mantap. Sejak dilantik pada Agustus 2024 lalu sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 5 meliputi Samarinda Utara dan Sungai Pinang, politisi muda Partai Golongan Karya (Golkar) ini langsung mengemban tanggung jawab besar sebagai Sekretaris Komisi III.

Sobat Nisita, di balik setelan formal kedewanan Arie Wibowo, selain ada rekam jejaknya yang sukses sebagai pengusaha konstruksi, ternyata ada sebuah draf kisah masa lalu yang sederhana. Kisah yang bermula dari sebuah rumah di kawasan Jalan Gerilya, Gang Family, Kelurahan Mugirejo, Samarinda.

Di sanalah, karakter seorang Arie Wibowo dibentuk dan ditempa bukan oleh teori politik yang rumit, melainkan oleh ketulusan dan keringat seorang ayah.

Ketika ditanya mengenai siapa sosok yang paling berperan membentuk kepribadian juga arah hidupnya hingga berhasil duduk di kursi parlemen, tanpa ragu, jawabnya: sang Ayah. Bagi Arie, ayahnya adalah kompas moral terbaik yang pernah ia miliki.

Semasa hidupnya, sang ayah dikenal luas sebagai tokoh masyarakat yang mendedikasikan energinya untuk lingkungan sekitar. Mulai dari menjabat sebagai Ketua RT hingga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Mugirejo.

“Siapa sosok keluarga yang membentuk itu pasti orang tua ya, bapak terutama. Dulu semasa hidupnya, beliau termasuk tokoh masyarakat lah di kampung itu. Bapak saya dulu RT dan ketua LPM Kelurahan Mugirejo. Sekarang beliau sudah meninggal,” kenang Arie. Dari sang ayah, Arie kecil belajar tanpa jarak tentang apa arti sesungguhnya dari kata “pengabdian”.

Rumah mereka di Gang Family selalu terbuka bagi warga yang mengeluh tentang berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Menyaksikan sang ayah yang ikhlas menghabiskan waktu demi gotong royong dan kesejahteraan kampung halaman membuat benih kepedulian sosial tumbuh subur di dalam dada Arie.

Didikan sang ayah yang egaliter dan gemar bersosialisasi secara tidak sadar membentuk bakat kepemimpinan dalam diri Arie sejak usia belia.

Saat menempuh pendidikan di SMP Negeri 11 Samarinda, pembawaannya yang supel dan mengayom membuat teman-teman sebayanya menaruh kepercayaan besar padanya.

Kala ditanya apakah dirinya memang sengaja memupuk cita-cita menjadi pemimpin sejak dini hingga terpilih menjadi Ketua OSIS, ia mengaku tidak tau.

“Yang OSIS, ya? Enggak tahu, waktu itu sistem pemilihan kalau enggak salah. Tiba-tiba kepilih aja begitu,” jawab pria kelahiran 9 Maret 1981.

Keterpilihan yang alamiah itu membuktikan bahwa aura kepemimpinan yang ia serap dari ketokohan sang ayah telah memancar sejak dini.

Pengalaman mengorganisasi teman-teman sekolah itulah yang kemudian menjadi modal berharga saat ia terjun ke dunia usaha, memimpin manajemen, hingga akhirnya mantap memilih jalur politik praktis.

Kini, setelah sang ayah tiada, kursi DPRD Kota Samarinda menjadi panggung bagi Arie untuk melanjutkan estafet pengabdian yang dulu diinisiasi ayahnya dalam skala yang lebih makro.

Jika dulu sang ayah berjuang memperbaiki parit kampung di tingkat RT, kini sebagai Sekretaris Komisi III, Arie memiliki kewenangan untuk mengawal anggaran penanganan banjir, perbaikan drainase, hingga penataan Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam demi maslahat seluruh warga Samarinda.

Berbekal latar belakang keilmuan yang komplit—Sarjana Ekonomi (S.E.), Sarjana Hukum (S.H.), dan kini sedang menempuh program Magister Hukum (S2)—Arie memadukan ketajaman analisis bisnis dengan pemahaman regulasi yang kuat untuk mengawasi penggunaan APBD agar tepat sasaran.

“Bagi saya, jabatan ini adalah amanah murni dari warga Samarinda Utara dan Sungai Pinang. Pembangunan yang sukses harus dirasakan dampaknya secara langsung oleh masyarakat bawah, baik itu infrastruktur jalan yang mulus maupun layanan publik yang responsif,” tegas pria yang juga aktif sebagai Penasehat LSM Gerakan Nyata Samarinda (GENSA) ini.

Sobat, Arie Wibowo adalah bukti hidup bahwa politik tidak selamanya tentang perebutan kekuasaan yang dingin. Lewat kepeduliannya di parlemen, Arie sedang mengirimkan pesan rindu sekaligus pembuktian ke langit.

Dengan nilai-nilai gotong royong dan ketulusan yang diajarkan sang ayah di Gang Family puluhan tahun lalu, Arie menatap masa depan. Nilai itu kini tetap hidup dalam semangat untuk terus bekerja, membangun Kota Samarinda menjadi rumah yang lebih baik bagi semua. (TR/Adv/DPRD Samarinda)

Related Posts

1 of 5