Sensus Ekonomi 2026 di Kota Samarinda sudah bergulir. Di balik target presisi tinggi, kompetensi komunikasi petugas di lapangan menjadi ujung tombak navigasi data ekonomi baru yang kian terdigitalisasi.
Nisita.info, Samarinda — Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda pada Selasa siang menyisakan genangan air dan beberapa titik banjir di sudut-sudut jalan protokol.
Namun, di bawah langit yang mendung dan rintik yang belum sepenuhnya reda, derap langkah para petugas Sensus Ekonomi 2026 sama sekali tidak menyurut. Berbekal perangkat teknologi di tangan, mereka mulai mengetuk pintu demi pintu pelaku usaha, merajut potret data yang akan menjadi kompas pembangunan satu dekade ke depan.
Suasana transisi dan adaptasi di hari kedua peluncuran ini terasa kental saat kami menemui Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda, Supriyanto, pada Selasa (16/6/2026). Sambil berteduh menghindari sisa hujan yang basah, ia membagikan catatan awal dari gelaran akbar nasional yang dijadwalkan berlangsung dari 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 tersebut. Secara garis besar, Supriyanto menegaskan bahwa peluit awal telah ditiup dengan mulus tanpa hambatan teknis yang berarti.
“Alhamdulillah, sampai dengan hari kedua ini belum ada laporan kendala yang signifikan dari lapangan. Teman-teman petugas saat ini masih melakukan penyesuaian intensif terhadap penggunaan aplikasi pendataan. Seluruh proses sensus periode ini memang sudah sepenuhnya berbasis teknologi dan paperless,” ujar Supriyanto optimis di sela-sela obrolan kami saat berteduh.

Sebagai langkah taktis sekaligus bentuk keteladanan, BPS Samarinda memulai pendataan dari pucuk pimpinan daerah. Pada hari-hari pertama, jajaran petugas khusus telah menyelesaikan pendataan terhadap Wali Kota Samarinda, Wakil Wali Kota, hingga Sekretaris Daerah. Agenda penyerapan data ini direncanakan terus bergerak cepat, termasuk menjangkau Ketua DPRD Kota Samarinda guna memastikan seluruh elemen pemangku kebijakan terekam sempurna sejak awal tahapan.
Langkah mulus di awal ini tidak terjadi secara instan. Jauh sebelum distribusi logistik dan perlengkapan diselesaikan pada Senin kemarin, BPS Samarinda telah membangun jembatan koordinasi yang kokoh dari level Camat, Lurah, hingga jajaran Ketua RT. Sinergi ini terbukti efektif meminimalisasi resistensi sosiologis di lapangan.
MENGEJAR BIAS “NOL KOMA”
Dalam perhelatan sensus makro seperti ini, angka bukan sekadar statistik mati, melainkan representasi dari realitas. Oleh karena itu, peran petugas di lapangan bukan lagi sekadar pengumpul data administratif, melainkan faktor paling determinan dalam menentukan kualitas akhir. BPS Samarinda memasang standar kualitas yang sangat tinggi untuk sensus kali ini: tingkat bias atau margin of error harus ditekan hingga level minimal—hanya nol koma sekian persen.

Untuk mencapai tingkat presisi ekstrem tersebut, kapasitas interpersonal petugas telah digenjot habis-habisan jauh hari sebelum diterjunkan. Melalui menu pelatihan komprehensif, mereka tidak hanya dicekoki aspek teknis pengoperasian aplikasi server, tetapi juga strategi komunikasi persuasif.
Simulasi khusus bahkan digelar secara dinamis dengan mendatangkan langsung para pelaku usaha riil sebagai simulasi sasaran. Langkah ini dilakukan agar petugas memiliki kepekaan psikologis untuk menghadirkan suasana wawancara yang nyaman, aman, dan tepercaya bagi para responden. Ketika pelaku usaha merasa nyaman, data jujur akan mengalir, dan bias data bisa ditekan mendekati angka nol.(Tr)















