Daerah

Tekan Angka Perundungan, Kemenag Kutai Barat Gencarkan Gerakan “Stop Bullying” ke Sekolah

Nisita.info, Barong Tongkok — Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kutai Barat melalui Seksi Penyelenggara Kristen mempertegas komitmennya dalam melindungi peserta didik dari praktik perundungan.

Melalui program rutin sepanjang tahun 2026, tim penyuluh turun langsung ke sekolah-sekolah untuk mengampanyekan gerakan “Stop Bullying”, salah satunya dilaksanakan di SDN 003 Barong Tongkok pada Jumat (24/4).

Program ini merupakan langkah strategis sekaligus tindak lanjut dari rekomendasi Dinas Pendidikan guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif di wilayah “Tanaa Purai Ngeriman”.

Berbeda dengan sosialisasi biasa, kegiatan ini diawali dengan asesmen awal untuk memetakan kondisi nyata perundungan di masing-masing sekolah. Data ini menjadi dasar bagi tim penyuluh untuk menentukan pendekatan yang paling tepat sesuai kebutuhan satuan pendidikan terkait.

Selain menyasar siswa, tim juga melakukan advokasi kepada kepala sekolah, guru, hingga tenaga kependidikan. Tujuannya adalah membangun komitmen kolektif agar sekolah memiliki sistem pencegahan perundungan yang berkelanjutan dan terstruktur.

Dalam sesi edukasi, para siswa diajak berdialog secara interaktif mengenai bentuk-bentuk perundungan, mulai dari fisik, verbal, hingga sosial. Siswa dibekali pengetahuan tentang dampak negatif bullying serta cara bertindak yang benar saat menjadi korban maupun saksi.

Theresia, penyuluh dari Seksi Penyelenggara Kristen, menjelaskan bahwa sekolah menjadi target utama karena intensitas interaksi antar-siswa terjadi dalam durasi yang sangat panjang setiap harinya.

“Sekolah adalah tempat belajar dengan rentang waktu yang panjang, menjadikan proses interaksi antar-siswa juga lebih lama. Program ini kami harapkan menjadi langkah preventif yang efektif dalam menekan kasus perundungan di dunia pendidikan,” ungkap Theresia.

Kemenag Kutai Barat menargetkan kunjungan ke sedikitnya dua sekolah setiap bulannya sepanjang tahun ini. Melalui konsistensi ini, diharapkan kesadaran seluruh elemen sekolah dapat meningkat, sehingga tercipta budaya sekolah yang lebih peduli, damai, dan ramah anak.

Dengan sinergi antara penyuluh agama dan perangkat sekolah, Kabupaten Kutai Barat optimis mampu meminimalisir angka kekerasan di lingkungan pendidikan dan mencetak generasi yang saling menghargai. (sh/*)

Related Posts

1 of 36