Fajar belum sepenuhnya menyingsing di Kota Samarinda, namun derap langkah kaki ratusan warga sudah terdengar berirama di sepanjang jalur pedestrian. Mulai dari anak-anak muda yang memacu kecepatan dengan sepatu lari modern, hingga para lansia yang berjalan santai menikmati udara pagi.
Halo, Sobat Nisita! Tren gaya hidup sehat kini bukan lagi sekadar alternatif pengisi waktu luang bagi warga Kota Tepian, melainkan sudah menjelma menjadi kebutuhan primer dan kultur sosial baru yang masif.
Geliat kesadaran kolektif masyarakat terhadap kesehatan jasmani ini sejatinya menjadi momentum emas yang membutuhkan sentuhan sensitif dari Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disparpora) Kota Samarinda.
Ketika animo warga untuk berolahraga sedang berada di titik tertinggi, ketersediaan wadah berupa fasilitas publik yang representatif, aman, dan nyaman menjadi variabel penentu yang tak boleh diabaikan.
Momentum inilah yang ditangkap secara jeli oleh jajaran parlemen. Sektor olahraga tidak boleh lagi dipandang sebelah mata hanya sebagai draf pos pengeluaran daerah, melainkan harus mulai dikelola dengan draf pemikiran korporasi: sebuah ladang investasi jangka panjang yang mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Logika Investasi: Sekali Bangun, PAD Mengalir Terus
Pandangan visioner tersebut mencuat kuat dalam rapat dengar pendapat (hearing) yang digelar oleh Komisi IV DPRD Kota Samarinda bersama Disparpora Samarinda di Gedung DPRD Kota Samarinda. Agenda strategis ini secara khusus membedah evaluasi kinerja draf program tahun berjalan sekaligus memproyeksikan rencana kerja untuk tahun anggaran depan.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan bahwa pemerintah kota harus berani mengubah paradigma lama dalam melihat aset daerah. Gelanggang-gelanggang olahraga (venue) yang tersebar di Samarinda memiliki nilai ekonomis tinggi jika dikelola dengan draf manajemen yang kreatif dan profesional.
“Kami menyarankan bagaimana dinas ini juga memaksimalkan fungsi pendapatan daerah melalui pengelolaan aset berupa venue olahraga. Paling tidak, ini seperti orang berinvestasi. Investasinya mungkin sekali di awal untuk pembenahan fisik, namun setelah itu tinggal pemeliharaan berkala, sementara draf PAD-nya akan terus mengalir masuk ke kas daerah,” ujar Novan dengan nada optimis saat ditemui usai rapat koordinasi.
Novan menambahkan, sentuhan pembenahan pada fasilitas olahraga akan memberikan dampak rembetan ekonomi (multiplier effect) yang luar biasa luas bagi Kota Samarinda.
Ketika sebuah fasilitas memiliki standar yang baik, berbagai ajang olahraga bergengsi yang tengah digandrungi publik—seperti kompetisi lari maraton—akan berbondong-bondong digelar di Samarinda.
Imbasnya, nih sobat, tingkat okupansi perhotelan akan melonjak tajam dan geliat pelaku UMKM kuliner lokal akan ikut kecipratan berkah ekonomi.
Optimisme di Tengah Keterbatasan Fiskal
Berdasarkan draf laporan berkala di dalam ruang rapat, target Pendapatan Asli Daerah yang dibebankan kepada UPTD Disparpora Samarinda berada di angka kurang lebih Rp1,6 miliar.
Angka tersebut diproyeksikan bersumber dari penyewaan aset daerah serta retribusi jasa umum, termasuk pengelolaan parkir di kawasan kompleks GOR Segiri.
DPRD Kota Samarinda mengaku sangat optimis target miliaran rupiah tersebut dapat terpenuhi secara mutlak di akhir tahun anggaran. Catatan performa hingga bulan Juni menunjukkan realisasi yang cukup menjanjikan, yakni telah menyentuh draf angka sekitar Rp757 juta.
Kendati riak optimisme membumbung tinggi, parlemen tidak menutup mata terhadap kendala klasik yang masih membayangi dinas teknis di lapangan, yaitu keterbatasan anggaran operasional untuk pemeliharaan area fasilitas yang terlampau luas.
Keterbatasan draf dana perawatan ini sempat memicu riak perbincangan publik di media sosial, salah satunya Novan menyinggung kondisi Sirkuit Kalan yang sempat viral akibat para pembalap harus turun tangan membersihkan lintasan secara mandiri.
“Kendala utama di lapangan memang keterbatasan anggaran perawatan. Area yang harus diurus itu sangat luas. Meskipun para petugas di sana sudah berinisiatif melakukan kerja bakti, penanganan area seluas Sirkuit Kalan tetap membutuhkan draf dukungan operasional yang sepadan agar venue tersebut memiliki nilai jual yang layak saat disewakan,” imbuh politisi berlambang beringin tersebut.
Mengawal Prestasi Menuju Porprov
Di luar urusan pembenahan infrastruktur penunjang PAD, Komisi IV juga menaruh perhatian besar pada program pembinaan draf prestasi para atlet lokal.
Keterbatasan alokasi dana operasional yang saat ini berada di kisaran Rp100-an juta diakui membuat program pembinaan berjalan kurang maksimal di tengah tingginya ekspektasi publik.
Guna menyiasati draf sumbatan anggaran tersebut, pihak legislatif memastikan telah mengambil langkah taktis dengan mengawal usulan tambahan anggaran prioritas di dalam draf APBD Perubahan.
Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat Samarinda harus mematangkan persiapan draf kontingen guna menghadapi perhelatan akbar Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang akan ditabuh.
Dengan adanya sinergi yang kuat antara pemenuhan fasilitas olahraga bagi gaya hidup warga, pengelolaan aset yang berorientasi profit, serta jaminan kesejahteraan atlet, roda olahraga di Samarinda diharapkan tidak hanya melahirkan masyarakat yang sehat secara fisik, namun juga menjadi pilar penyokong kemandirian fiskal daerah yang membanggakan. (Tr/Adv/DPRD Samarinda)















