Parlementaria

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Sebut Terowongan Bukan Proyek Fisik Biasa

Nisita.info, Samarinda – Bagi warga Kota Tepian, melintasi kawasan Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) menuju arah Sambutan atau sebaliknya acap kali membutuhkan kesabaran ekstra. Selain jalinan kendaraan yang padat, di sana berdiri sebuah tanjakan legendaris yang akrab disebut warga sebagai “Gunung Manggah”.

Bukan tanpa alasan nama itu melekat. Dalam khazanah bahasa Banjar, kata manggah mengekspresikan kondisi napas yang terengah-engah alias ngos-ngosan. Sebuah penamaan yang sangat akurat untuk menggambarkan bagaimana mesin-mesin kendaraan harus bekerja keras, deru napas para pengendara yang menahan kecemasan, hingga riwayat kecelakaan yang kerap mewarnai tanjakan terjal tersebut. Namun, cerita “ngos-ngosan” menahun ini dipastikan akan segera menemui babak akhir yang melegakan.

Langkah solutif kini tengah dihadirkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui proyek monumental Terowongan Samarinda. Kehadiran infrastruktur modern ini dirancang khusus untuk memecah arus kepadatan lalu lintas, sekaligus menjadi jawaban atas rute alternatif yang jauh lebih aman bagi masyarakat.

Optimisme ini terpancar kuat dalam perbincangan santai penuh kehangatan antara Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, bersama awak media di Ruang Komisi III pada Rabu, 20 Mei 2026 lalu. Deni menyebutkan bahwa terowongan ini bukan sekadar proyek fisik biasa, melainkan sebuah ikhtiar sejarah untuk mengurai simpul kemacetan yang melelahkan di kawasan Otista dan Gunung Manggah.

“Kita semua tentu menginginkan adanya percepatan agar kemacetan dan risiko di jalur padat tersebut bisa segera teratasi. Kehadiran terowongan ini adalah solusi jangka panjang yang sangat dinantikan. Target kita bersama, mudah-mudahan di tahun 2026 ini terowongan sudah bisa berfungsi secara optimal untuk memecah alur kepadatan lalu lintas,” tutur Deni dengan senyum merekah.

Deni menambahkan, sinergi yang terus berjalan erat antara DPRD dan Pemkot Samarinda ditujukan sepenuhnya untuk memastikan bahwa utilitas publik ini dapat segera dinikmati. Jika uji coba dan kelaikan fungsi berjalan mulus, wajah mobilitas warga di kawasan tersebut akan berubah total menjadi lebih nyaman, produktif, dan efisien.

Nantinya, saat terowongan ini resmi beroperasi, warga Samarinda tidak perlu lagi memacu kendaraan dengan was-was di tanjakan curam. Arus ekonomi dan pergerakan masyarakat akan mengalir lebih lancar tanpa sekat kemacetan yang menguras energi.

Pada akhirnya, proyek kebanggaan garapan Pemkot Samarinda ini akan menyulap kawasan Otista menjadi jalur yang ramah. Dan kisah tentang Gunung Manggah yang membuat “ngos-ngosan” perlahan akan bergeser menjadi sebuah cerita lama, berganti dengan napas lega warga yang berkendara dengan aman dan nyaman.(Tr/*)

Related Posts

1 of 6