Nisita.info, Nusantara – Selasa (17/2/2026) sore itu, langit di atas Penajam Paser Utara tidak hanya menjadi saksi pembangunan fisik Ibu Kota Nusantara (IKN). Di atas atap Rusun ASN 1 yang menjulang, sekelompok orang berkumpul dengan teropong dan teleskop, menatap ufuk barat dengan satu tujuan: menjemput hadirnya bulan sabit tipis pertanda dimulainya Ramadhan 1447 Hijriah.
Ini adalah momen bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam catatan peradaban Indonesia, IKN resmi menjadi salah satu dari 133 titik pemantauan hilal nasional.
Pemilihan lokasi di Rusun ASN 1 bukan tanpa alasan. Berada di ketinggian yang mendukung, tempat ini menawarkan jarak pandang optimal tanpa terhalang rimbunnya hutan tropis atau gedung-gedung beton yang terlalu padat.
Kepala Kanwil Kemenag Kaltim, Abdul Khaliq, yang menggandeng Kemenag PPU dan BMKG, mengakui bahwa IKN memberikan perspektif baru dalam pengamatan astronomis. Sinergi antara data presisi BMKG dan metode rukyatul hilal tradisional menciptakan suasana religius yang berpadu dengan modernitas ibu kota baru.
Meskipun mata nasional tertuju pada IKN, semangat “menjemput Ramadhan” tetap menggeliat di seluruh penjuru Kalimantan Timur. Di Samarinda, menara Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center tetap menjadi primadona warga untuk melihat hilal.
Ini membuktikan bahwa di tengah transformasi Kaltim menjadi pusat pemerintahan baru, tradisi keagamaan tetap membumi. Rukyatul hilal bukan sekadar urusan teknis melihat bulan, melainkan simbol ketaatan dan kesabaran umat dalam menunggu ketetapan Sang Pencipta.
Tahun ini, standar yang digunakan adalah kriteria baru MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Hilal harus “berani” muncul di ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat untuk bisa dinyatakan sah secara visibilitas.
“Jika sore ini hilal terlihat di atas 3 derajat, maka Rabu kita sudah mulai berpuasa. Namun jika belum, Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari dan puasa dimulai hari Kamis,” jelas Abdul Khaliq dengan tenang.
Angka-angka derajat ini bukan sekadar hitungan matematis, melainkan panduan bagi jutaan umat untuk memulai perjalanan spiritual sebulan penuh.
Hasil dari IKN dan titik-titik lain di Bumi Etam segera terbang menuju Jakarta sebagai bahan Sidang Isbat. Namun, lebih dari sekadar pengumuman tanggal, ada pesan kuat yang dikirimkan dari langit Nusantara sore itu: pesan toleransi dan rasa hormat.
Apapun hasil sidangnya—apakah esok atau lusa—masyarakat diimbau untuk menjaga harmoni. Di IKN, di mana rumah-rumah ibadah dibangun berdampingan, rukyatul hilal perdana ini menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah bulan yang menyatukan, bukan memisahkan.
Sore itu, saat matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala IKN, ada harapan yang membuncah. Ramadhan telah menyapa dari langit Nusantara, membawa kedamaian bagi seluruh negeri.(hend/dfa/*)















