Oase

Kisah Gunung Uhud yang Bergetar karena Bahagia

Sobat Nisita, di balik kokohnya batuan cadas yang menjulang di utara Madinah, Jabal Uhud menyimpan sebuah rahasia cinta yang tak biasa antara makhluk tak bernyawa dan kekasih Allah.

Gunung sepanjang kurang lebih tujuh kilometer ini bukan sekadar saksi bisu berkecamuknya perang dahsyat di tahun ketiga Hijriah, melainkan juga saksi atas getaran cinta yang nyata kepada Rasulullah SAW.

Suatu hari, Rasulullah SAW berjalan mendaki Uhud. Beliau tidak sendirian. Di sisinya, hadir manusia-manusia terbaik generasi awal Islam: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.

Namun, sesampainya mereka di atas puncak, sebuah fenomena menakjubkan terjadi. Gunung batu yang besar itu tiba-tiba bergetar dan berguncang hebat. Getaran itu bukanlah gempa bumi geologis yang menakutkan, melainkan sebuah ekspresi kegembiraan yang luar biasa. Uhud seolah tak mampu membendung rasa bahagia dan takzim karena tubuhnya sedang diinjak oleh manusia-manusia paling mulia di muka bumi.

Merasakan guncangan tersebut, Rasulullah SAW kemudian menghentakkan kaki mulianya ke tanah Uhud seraya bersabda dengan penuh wibawa:

“Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang yang akan mati syahid (Umar dan Utsman).” (HR. Bukhari).

Seketika itu juga, Jabal Uhud langsung terdiam. Hentakan kaki dan sabda sang Nabi layaknya belaian penenang yang membuat gunung tersebut patuh dan kembali tenang dalam keheningan.

Sebuah Ramalan Sejarah yang Presisi

Sabda Rasulullah SAW di atas Uhud kala itu bukan sekadar kalimat penenang, melainkan sebuah nubuat (ramalan kenabian) yang di kemudian hari terbukti dengan sangat presisi.

Sejarah mencatat, Abu Bakar wafat dalam kedamaian di tempat tidurnya setelah mengemban amanah sebagai khalifah pertama. Sementara itu, dua sahabat yang berada di atas Uhud hari itu—Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan—keduanya menjemput ajal secara heroik sebagai syuhada akibat pembunuhan politis saat mereka masing-masing menjabat sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.

Gunung yang Mencintai dan Dicintai

Ikatan batin antara Nabi dan Jabal Uhud bukanlah hubungan satu arah. Rasulullah SAW sendiri menaruh rasa hormat dan cinta yang mendalam pada gunung ini. Dalam kesempatan lain, beliau pernah menatap Uhud dan bersabda kepada para sahabatnya:

“Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagi seorang muslim, kisah Jabal Uhud mengajarkan sebuah refleksi mendalam tentang alam semesta. Jika sebuah gunung batu yang keras dan tak bernyawa saja bisa mengenali kemuliaan Rasulullah SAW bahkan bergetar karena rindu dan bahagia, betapa manusia—yang dianugerahi akal dan hati—seharusnya memiliki getaran cinta yang jauh lebih besar kepada beliau.(*/)

Related Posts

1 of 9