Nisita.info — Dunia pendidikan di Kota Samarinda tengah bersiap melangkah ke babak baru. Kecerdasan Artifisial (KA) dan koding kini bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan mulai diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan dasar.
Langkah berani ini mendapatkan atensi sekaligus pengawalan ketat dari DPRD Kota Samarinda guna memastikan transisi teknologi ini berjalan tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi siswa.
Dalam Rapat Hearing yang digelar di Ruang Rapat Paripurna Lantai 2 Kantor DPRD Samarinda, Selasa (5/5/2026), sinergi antara kebijakan eksekutif dan fungsi pengawasan legislatif menjadi kunci utama dalam merumuskan ekosistem belajar yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Integrasi koding dan KA di Samarinda dirancang dengan pendekatan yang sangat memperhatikan tahapan perkembangan anak. Di jenjang Sekolah Dasar (SD), khususnya kelas 5 dan 6, fokus utama bukanlah penguasaan bahasa pemrograman yang rumit, melainkan penanaman fondasi berpikir komputasional.
Melalui metode unplugged (tanpa perangkat digital), siswa dilatih memecahkan masalah secara sistematis, melakukan dekomposisi, dan mengenal pola. Ini merupakan persiapan mental sebelum mereka memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mulai menyentuh pemrograman berbasis blok atau visual serta eksplorasi mekanisme di balik teknologi sehari-hari.
Meski mendukung penuh kemajuan literasi digital, DPRD Kota Samarinda melalui Anggota Komisi III, Anhar, memberikan catatan kritis terkait keterlibatan pihak ketiga dalam pelatihan guru. Legislatif ingin memastikan bahwa anggaran dan skema kerja sama yang dijalankan benar-benar efisien dan berkelanjutan.
“Harus jelas skemanya dengan pihak ketiga ini. Kami memberi waktu kepada Disdikbud Kota Samarinda untuk membuat jawaban pada rapat kita berikutnya,” tegas Anhar saat memimpin jalannya rapat. Pengawasan ini dilakukan agar investasi besar dalam bidang teknologi pendidikan ini tidak berhenti pada seremonial semata, melainkan memiliki output yang terukur.
Menjawab tantangan tersebut, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Ibnu Araby, melaporkan bahwa langkah awal telah dimulai dari akar rumput. Para guru PAUD dan TK di Samarinda telah tuntas menjalani pelatihan koding dan AI selama tiga hari pada pekan lalu.
“Poin kunci dari sistem pembelajaran mendalam ini adalah membantu siswa untuk memahami konsep secara mendalam, reflektif, dan penuh kesadaran,” jelas Ibnu Araby. Dengan membekali guru-guru di jenjang paling dasar, diharapkan fondasi berpikir kritis dan kreatif siswa sudah terbentuk sejak dini.
Satu aspek krusial yang ditekanan dalam narasi kurikulum baru ini adalah Etika Digital. Pembelajaran koding dan KA di Samarinda tidak hanya berhenti pada kemampuan teknis, tetapi juga membangun karakter agar siswa mampu mengidentifikasi risiko serta manfaat teknologi secara bertanggung jawab.
DPRD Kota Samarinda berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan ini agar integrasi koding dan KA benar-benar menjadi alat untuk mengasah kemampuan kritis, kreatif, dan kolaboratif anak-anak Samarinda, sekaligus memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan yang diambil selalu berpijak pada transparansi dan kepentingan masa depan daerah. (Adv/DPRD Samarinda/*)










